Sunday, January 10, 2010

Politik Santri: Cara Menang Merebut Hati Rakyat


Judul Buku : Politik Santri: Cara Menang Merebut Hati Rakyat Penulis : Abdul Munir Mulkhan
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta

Cetakan : I (Pertama), 2009

Tebal : 304 halaman

Harga : Rp. 55.000,-

Peresensi : Humaidiy AS*


Islam dengan politik tetap menjadi bahan perbincangan menarik untuk dicermati terlebih menjelang pil[pres Juli 2009 nanti.

Dari perspektif politik (upaya mencari dukungan untuk menduduki kursi kekuasaan), suara umat Islam yang nota bene adalah mayoritas sampai saat ini masih menjadi kartu truf dalam upaya untuk memperoleh kursi dalam kekuasaan. Bagi elit politik Indonesia, Islam ibarat "gadis cantik" yang selalu dijadikan rebutan untuk memperbesar kekuatan masing-masing partai politik.
Abdul Munir Mulkhan melalui buku yang berjudul Politik Santri; Cara Menang Merebut Hati Rakyat, berusaha menelusuri sejauh mana manuver partai-partai politik berbasis Islam (diistilahkan oleh penulis sebagai politik santri) berhasil bertahan dalam lingkaran pertarungan politik praktis dengan berbagai ideologi yang di bawanya, lebih khusus mencermati kiprah perjalanan politik oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang tak lain adalah ”anak kandung” dari rahim gerakan Islam-tradisional; Nahdlatul Ulama (NU) dan gerakakan Islam-modernis; Muhammadiyah, yang tak lain adalah dua ormas terbesar di negeri ini.
Keterlibatan politik santri terlihat jelas dari perjalanan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar santri yang lahir sejak zaman sebelum kemerdekaan. Dalam perjalannya, keduanya tidak pernah benar-benar terlepas dari kegiatan politik walaupun menyatakan diri bukan bagian dari gerakan politik seperti dirumuskan dalam khittah masing-masing. Hal ini dapat dilihat dari upaya memasukkan Islam kedalam kekuasaan menjadi dasar negara secara resmi.

Pada era 1950-an, terjadi pertentangan ideologis di antara partai politik yang ada. Konflik itu dipicu oleh perdebatan apa seharusnya yang pantas menjadi dasar negara setelah penjajahan. Perdebatan itu meliputi tiga macam yang harus dijadikan dasar negara, Pancasila, Islam, dan sosial ekonomi.

Partai-partai Islam menghendaki Islam dijadikan dasar negara Indonesia, sedangkan kelompok partai nasionalis menolaknya. Rancangan pembukaan undang-undang dasar yang mengatakan, sila pertama ketuhanan dengan menjalankan syariah bagi pemeluknya, (Piagam Jakarta) ditentang oleh kelompok non-Islam. Melalui perbincangan yang sangat melelahkan, akhirnya umat Islam menerima keberatan kelompok non-Islam dan nasionalis dengan bersedia menghapus tujuh kata yang ada dalam Piagam Jakarta. Sampai runtuhnya rezim Orde Baru, dasar negara tidak pernah dipertanyakan. Baru pada era Reformasi, dasar negara mulai dipertanyakan kembali. Muncullah sebagian kelompok Islam yang menghendaki Islam dijadikan dasar resmi kenegaraan dan memberlakukan syariat Islam sebagai hukum resmi pemerintah.

Asumsi yang digunakan, menggunakan Islam sebagai dasar negara adalah salah satu cara efektif untuk mengatasi krisis multidimensi bangsa Indonesia. Perbincangan Islam sebagai ideologi negara, kembali terjadi di antara partai politik Islam. PAN dan PKB secara tegas menolak menjadikan Islam sebagai dasar negara. Alasannya, Indonesia terdiri dari penduduk yang pluralis dalam hal suku, etnis, agama, dan budaya. Sementara itu, PPP, PBB dan Partai Keadilan, setuju Islam menjadi dasar negara Indonesia. Banyak pihak kemudian memandang bahwa keterlibatan gerakan politik gerakan Islam dalam dunia Islam bisa menghambat pertumbuhan demokrasi. (hal. 45).

Menurut penulis, perdebatan hubungan Islam dan politik, khususnya keterlibatan gerakan Islam dan kaum santri dalam dunia politik diakibatkan bahwa kaum santri meletakkan keterlibatannya dalam dunia politik sebagai realisasi kebenaran ajaran agama yang sebenarnya profan dan sangat ptragmatis. Cara pandang ini menyebabkan aktivitas politik santri mengalami kesulitan berkomunikasi secara terbuka dan dialogis dengan konstituen rakyat pemilih (hal. 233).

Walaupun lebih dari 87% penduduk Indonesia memeluk Islam, tidak semua pemeluk Islam kemudian mendukung partai Islam. Ironisnya, perolehan suara partai Islam dalam seluruh pemilu yang dilangsungkan tidak pernah mencapai 50% dari jumlah pemeluk Islam. Suara tertinggi dicapai dalam pemilu pertama tahun 1955 (43%) dan cenderung terus mengalami penurunan.

Kenyataan ini akan terus bergulir berkelindan sepanjang identitas ideologi politik partai islam selalu berkutat pada jargon doktrin “normatif” keagamaan dan cenderung elitis, sementara agenda-agenda “seksi” seputar permasalahan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, pendidikan yang lebih menyentuh kepada kepentingan masyarakat luas dimanfaatkan dengan baik sebagai flatform (bentuk kebijakan) oleh partai-partai berbasis nasionalis atau sekuler. Simpati publik pun mengalir, sehingga mereka meraih dukungan mayorits muslim. Parpol Islam hanya menawarkan flatform berdasar rumusan formal ajaran yang kurang membumi tanpa kemauan untuk memahami realitas sosial, ekonomi dan budaya rakyat kebanyakan.

Lebih jauh, jika kita perhatikan, politik Islam Indonesia memang banyak yang bercorak formalistik dan jauh dari substansi. Konflik kepentingan dan pandangan yang berbuntut perpecahan internal banyak terjadi di tubuh partai Islam atau berbasis umat Islam. Perpecahan dan konflik hampir merata terjadi di tubuh PPP, PKB, PAN dan PBB adalah fakta yang tak terbantahkan. Hanya jika islam ditawarkan dengan bahasa rakyat, peluang partai santri memperoleh dukungan mayoritas pemilih muslim dan rakyat secara keseluruhan akan terbuka.

Membangun sinergi kesadaran

Masa depan suatu partai, apakah ia dibangun dari sebuah keyakina teologis, tradisi lokal ataupun ideologi sekuler, pada akhirnya ditentukan bagaimana aktivitas partai tersebut membangun komunikasi dengan konstituen. Kegagalan perjuangan politik Islam terjadi terutama tidak adanya kesesuaian antara doktrin dan aksi politik. Kenyataan demikian dapat dilihat setidaknya dari dua hal, pertama, anggapan bahwa doktrin yang berupa wahyu tampak hanya bersifat konseptual dan universal tanpa kesadaran perlunya tafsir ulang. Sebut saja misalnya penolakan-penolakan mereka terhadapa de-ide Barat dan kengototan untuk menerapkan syariat islam secara formal.

Kedua, doktrin agama tidaklah menjadi faktor penentu utama dalam aksi politik. Artinya, meskipun partai Islam menekankan pada egaliteranisme, keadilan dan kesejahteraan rakyat, namun faktor ekonomi dan sosial lebih ditonjolkan oleh aktivis Islam politik. Hal ini tampak pada pragmatisme dan opurtonisme yang banyak menjalar pada politisi Islam.

Mulkhan dalam penelusuran bab demi bab dalam buku setebal 304 halaman ini menekankan, bahwa jika ingin merebut simpati masyarakat muslim dan memenangi pemilu, parpol Islam harus melepas keengganan untuk membangun sumber daya manusia (generasi muda santri), terutama melalui pengkajian ilmu pengetahuan secara mendalam dan pengaturan manajemen yang efisien. Selama ini, kekuatan politik santri lebih banyak dikerahkan pada aspek ideologis simbolis dan kekuasaan yang bersifat semu dan sesaat saja.

Politik umat Islam ke depan –meminjam istilah Kuntowijoyo— haruslah melakukan objektivitas terhadap praktik perjuangan politiknya. Artinya, mereka yang bergerak dilevel partai dan ormas keislaman seyogyanya memperjuangkan aspek-aspek substansi islam, memperbaikai pendidikan dan pemberantasan KKN serta bersikap toleran terhadap umat agama lain demi pelakukan pembebasan kemanusiaan. Di luar itu semua, bangsa Indoenesia suadah selayaknya tidak lagi terjebak dalam simbol-simbol politik semacam sosialis, agamis ataupun nasionalis.

Yang dibutuhkan bangsa sekarang ini adalah pemerintah yang cerdik melakukan prioritas tindakan dan kebijakan politik demi tumbuhnya iklim demokratisasi yang sehat. Jadi, bukan pemerintahan atau partai yang hanya pandai beretorika dan mengelabui massa dengan mengedepankan ideologi tertentu. Krisis politik, ekonomi, hukum, moral dan budaya Indoensia sudah saatnya diselesaikan dengan cara membangun sinergi kesadaran bersama oleh setiap elemen bangsa ini tanpa terjebak pada simbol golongan dan ideologi. Selamat membaca!

*Peresensi adalah peneliti pada Lembaga Kajian Agama dan Swadaya Umat (LeKAS) Yogyakarta.


Selengkapnya...

Gerakan Pena Kaum Sarungan

Judul Buku : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis : Rizal Mumazziq Zionis, dkk.

Editor : Tsanin A. Zuhairi, S,Hi, M.Si.

Prolog : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si

Penerbit : Muara Progresif, Surabaya

Cetakan : I; 2009

Tebal : vii + 224 halaman

Peresensi : Anwar Nuris*


Verba volant, scripta manent
(kata-kata akan sirna, tulisan akan membuatnya abadi)

Di tengah maraknya santri pesantren saat ini yang sindrom jejaring sosial semacam Facebook sebagai media sharing dan menulis, terdapat anekdot menarik yang berkembang dikalangan mereka. Seorang santri yang tidak mau dan mampu menulis, ibarat burung bersayap satu. Burung itu hanya mampu meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain, atau terbang pendek dari satu pohon ke pohon lain yang jaraknya sangat dekat. Santri yang tidak mau menulis hanya mampu mengaji dan mengkaji dari satu halaqah ke halaqah yang lain. Santri yang mau menulis akan mampu mengembangkan pemikiran dan ilmu mereka lebih luas, tanpa dibatasi oleh sekat apapun, terlebih di era digital seperti sekarang ini.

Mereka (santri) sepertinya tersihir oleh lembar sejarah kepenulisan para pendahulunya. Aviecena (Ibnu Sina) yang dikenal karena kepakarannya di bidang kedokteran. Buah karyanya berjudul al-Qanuun fit-Thibb menjadi rujukan beberapa fakultas kedokteran di Barat. Bahkan dengan karyanya itu, ia dinobatkan sebagai bapak kedokteran dunia. Selain itu ada Imam al-Ghazali dengan magnum opus-nya Ihya’ Ulumiddin yang konon menjadi rujukan negeri Barat dan Eropa selama lebih kurang 7 abad lamanya. Al-Khawarizmi, Omar Khayyam, Nashir Al-Din Thusi sang profesor Matematika, Ibnu Al-Haytam yang ahli Eksprimentalis, Al-Biruni sang pegiat Fisika, Ar-Razi yang menggeluti ilmu Kimia, dan masih banyak yang lainnya.

Buah pemikiran cendikiawan yang dituangkan dalam bentuk tulisan tersebut telah merubah peradaban dunia hingga seperti sekarang. Berkat buku yang di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan telah menjadikan dunia lebih berwarna. Alam tidak lagi gelap karena Thomas Alfa Edison yang telah menemukan listrik. Manusia bisa bepergian cepat sampai tujuan dengan sarana kereta api berkat mesin uap yang ditemukan James Watt. Karya-karya mereka lah yang membuat mereka dikenal. Karya yang tidak lapuk oleh waktu, karena ditulis dalam sebuah media bernama buku atau kitab, sehingga bisa dinikmati oleh generasi yang jauh di bawahnya.

Dalam konteks Indonesia, Tradisi kepenulisan juga amat kuat. Banyak cendekiawan Islam di negeri ini yang menulis buku, kitab, atau pun karya tulis yang lain. Mayoritas dari mereka dididik dan dibesarkan oleh lingkungan pesantren.

Sebagaimana kita ketahui, pesantren memiliki tradisi unik dan unggul yang jarang didapat pada lembaga lain. Dan salah satu keunikan tersebut adalah tradisinya dalam mengembangkan warisan keilmuan ulama salaf (salafus shalih). Pola gerakan yang dilakukan ulama salaf untuk memperoleh dan mentransformasikan keilmuannya tidak hanya membaca dan mengkaji, tetapi berkontemplasi dan kemudian menerjemahkan pemikirannya dalam bentuk tulisan.

Mereka (ulama salaf) mampu melahirkan dan mewariskan karya-karya tulis yang ternyata masih dipelajari oleh berbagai pondok pesantren atau sekolah sampai sekarang. Tidak sedikit pula dari karya ulama atau kiai Indonesia yang dikenal luas di berbagai belahan bumi. Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Al-Tirmasi, atau Syekh Yasin Al-Fadani Al-Makky adalah di antara para punggawa pesantren di Indonesia yang karyanya telah melabuhi pemikiran intelektual Islam di berbagai Negara.

Selain mereka, “santri Indonesia” yang lain juga banyak menelorkan karya-karya yang bagus dan monumental. Beberapa nama yang dapat disebut di antaranya adalah KH. Ma’shum Ali dengan al-Amtsilatut Tashrifiyah, KH. Hasyim Asy’ari dengan Adab al-Alim wa al-Muta’allim, KH Bisri Mustofa dengan Tafsir al-Ibriz dan KH. Sahal Mahfudz dengan Thariqah al-Ushul ala al-Ghayah al-Ushul. Rata-rata tulisan mereka tetap di baca saat ini bahkan menjadi referensi utama dalam setiap kajian maupun pengajian dilingkungan pesantren.

Dus, santri sebagai salah satu elemen pesantren tidak hanya ta’dzim terhadap pemikiran gurunya, tetapi juga patuh dan meniru dalam usaha mendapatkan pemikiran kreatif. Kreatifitas menulis yang dikembangkan kaum santri akan menjadi media dakwah sejati bagi umat Islam dan untuk generasi mendatang nanti. Pesantren tidak akan disebut lembaga eksklusif bila mampu melahirkan pemikiran kreatif serta ide-ide cerdas demi pengembangan dan dakwah Islam sesuai dengan visi dan misi pesantren.

Oleh karena itu, persepsi yang berkembang bahwa tradisi menulis di kalangan santri kini lengang dan seakan mati suri itu tidak benar adanya. Buku Jalan Terjal Santri menjadi Penulis ini hadir sebagai bukti bahwa kaum santri intelektual (pesantren) telah "berusaha" mengikuti gerakan pena para pendahulunya meskipun hanya sebatas tulisan pendek (opini, artikel, antologi sastra, kolom, dan lain-lain) yang tersebar di media massa maupun elektronik.

Buku ini juga sebagai antitesa terhadap anggapan mayoritas masyarakat bahwa menulis itu adalah bakat. Faktanya, menulis dapat dipelajari asal ada kemauan, keberanian, dan ketekunan berlatih. Dengan kemauan kuat, setiap orang akan mahir menulis. Membaca teori saja tidak pernah cukup. Ibarat orang belajar berenang, kalau hanya membaca teori tanpa pernah mempraktikkan, tentu dia tidak akan bisa berenang. (hal. 20-21)

Buku setebal 224 halaman ini merupakan kumpulan tulisan (curhat) tentang lika-liku penulis pemula maupun yang sudah agak tua dalam upaya mnyuratkan ide yang tersirat. Mereka yang mayoritas santri asli Jawa Timur ini sebagian besar telah menempuh Perguruan Tinggi. Mereka aktif diberbagai kajian dan aktivitas yang tak jauh dari minat mereka. Adalah Rijal Mumazziq Zionis, Noviana Herliyanti, Nur Faishal, Mohammad Suhaidi RB, Ach. Syaiful A’la, Azizah Hefni, Ahmad Muchlish Amrin, Salman Rusydi Anwar, Muhammadun AS, Ana FM, Ahmad Khotib, Fathorrahman JM, dan Hana Al-Ithriyah.

Dengan menulis mereka dapat mengatasi rasa amarah, iri, kelemahan diri, dan kebencian yang ada di hati. Menulis jelas sangat membantu mereka untuk mengatasi rasa sok tahu. Menulis dapat membuat diri lebih berhati-hati dalam memutuskan sesuatu.

Dari tulisan-tulisan mereka dalam buku ini dapat diketahui bahwa jalan terjal yang dimaksud yaitu; memelihara keinginan dan semangat yang kuat, manajemen waktu yang mapan, banyak membaca dan berfikir, optimistis, komitmen dan idealisme yang tinggi, membebaskan diri dari keterikatan rasa salah, serta mencari dan menemukan tanpa menunggu berpangku tangan.

Sebuah buku yang melelahkan hingga mata tak mau terpejam.

* Peresensi adalah alumnus Pondok Pesantren Nasy-atul Muta’allimin Gapura Sumenep Madura, sekarang nyantri di Pondok Budaya IKON Surabaya

Selengkapnya...

NEGARA TUHAN

Judul : Negara Tuhan; The Thematic Encyclopaedia
Penyunting : Maftuh dkk.,
Penerbit : SR-Ins Publishing,
Bulan : September 2004

Buku yang menyediakan data cukup kaya, meski otentisitas dokumen yang ditawarkannya belum teruji.

ORGANISASI Jamaah Islamiyah (JI) itu ada, sekurangnya sebagai sel Al-Qaidah yang melakukan kekerasan atas nama Tuhan dan siap mengambil alih Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pernyataan ini bisa dibaca dari buku "Negara Tuhan; The Thematic Encyclopaedia" suntingan Maftuh dkk., terbitan SR-Ins Publishing, September 2004. JI bahkan lebih senior dari Al-Qaidah, mempunyai ikatan kuat dengan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Bakar Ba’asyir, dan berhubungan dengan DDII dan KOMPAK-nya.
Apa yang dimaksud Negara Tuhan tidak banyak dijelaskan kecuali penyebutan kosakata itu di berbagai tempat yang sebagian dibubuhi tanda kutip. Buku kumpulan karangan yang disebut “seribu halaman”, penyuntingnya lebih suka menyebut Alfiyah Ibna’ Az-Zaman itu, tidak menyertakan penulis ahli politik. Penyunting terkesan lebih menekankan uraian tentang jaringan Al-Qaidah dan JI dengan berbagai aksi bombing-nya.

Secara khusus 4 dari 13 artikel menguraikan secara detail hubungan Al-Qaidah, JI, MMI, Abu Bakar Ba’asyir, dan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). Banyak organisasi Islam yang bermunculan belakangan ini disebut-sebut buku itu mempunyai hubungan dengan Al-Qaidah dan JI, terutama melalui alumni Perang Afganistan dengan kamp Peshawar-nya.

Murba menulis; “… anggota Al-Jama’ah Al-Islamiyyah memang telah berdiaspora ke beberapa organisasi lokal, baik itu yang sudah “dibekukan”, “membekukan”, dan “masih aktif”. Di sinilah dapat dipahami jika kemudian, bom-bom yang meledak selama pasca-reformasi adalah mereka yang pernah aktif sebagai “alumni Afghanistan” dan “alumni Mindano”. Kalimat yang tampak kurang lengkap atau salah letak kata seperti ini bisa ditemukan di banyak tempat, selain salah ketik di hampir semua halaman, yang mengganggu dan bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Selain itu, beberapa kesimpulan kurang didukung bukti yang kuat, kadang sulit dibedakan dari sumber yang dikutip, dan tampak bertentangan. Kejujuran laporan ICG dan Sidney Jones yang diragukan diikuti pernyataan: “Jika demikian halnya, aktifis Lasykar Jihad dan Majelis Mujahidin juga dapat dikategorikan sebagai Al-Jama’ah Al-Islamiyyah dan terkait erat dengan Al-Qaidah.” Di tempat lain dinyatakan: “… tidak ada sedikit pun statement yang menguatkan pandangan publik mengenai adanya jaringan Al-Qa’idah atau Al-Jama’ah Al-Islamiyyah di Indonesia... (hlm. 765). Dan: “… .sebagaimana diketahui, kelompok ini memang berasal dari mereka yang sekarang dicap oleh Sidney sebagai anggota Al-Jama’ah Al-Islamiyyah di Asia Tenggara.” (hlm. 747). “Belakangan beberapa aktifis Al-Jama’ah Al-Islamiyyah atau yang punya kaitan dengan Al-Qa’idah ternyata pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Ngruki, Solo.” (hlm. 741).

Penyimpulan hubungan Al-Qaidah, JI, MMI, dan Ba’asyir bersumber dokumen Al-Qaidah dan JI yang otentisitasnya belum teruji. Maftuh menyatakan: “Demikianlah beberapa 'pelajaran' yang didapatkan dari Manual al-Qaeda (di tempat lain ditulis Al-Qa’idah). Manual ini tentu saja masih perlu dilacak keabsahannya, akan tetapi melihat dari pola-pola teroris, dapat diakui kebenarannya.” Sementara ia meragukan apakah PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Al-Jama’ah Al-Islamiyyah) betul dokumen JI, dititipkan di JI, atau sengaja dibuat oleh tukang.

Tanpa bukti otentisitas dokumen-dokumen di atas, seluruh kesimpulan tentang hubungan Al-Qaidah, JI, MMI, dan Abu Bakar Baasyir bisa mentah. Sementara adanya hubungan disimpulkan dari kesamaan ide, pilihan kata, pemakaian bahasa, dan font yang dipakai. Pada halaman 864 dinyatakan: “… sebenarnya Al-Jama’ah Al-Islamiyyah ini bukan tidak mungkin sudah ‘nikah’ dengan Majelis Mujahidin…” Di tempat lain disimpulkan: “… adanya korelasi yang kuat antara PMIMADA (Pedoman Mengamalkan Islam menurut al-Qur’an dan as-Sunnah) Abu Bakar Ba'asyir dengan PUPJI-nya Al-Jama’ah Al-Islamiyyah yang tak terbantahkan”… (hlm. 895). “… tidak begitu salah jika disimpulkan bahwa JI dan MM adalah… berbeda dalam nama dan bahasa, bersatu dalam bentuk dan tujuan.” (hlm. 899).

Kumpulan tulisan sering menghadapi problem konsistensi alur pikiran yang harus dijaga penyunting. Namun buku Negara Tuhan ini menyediakan data cukup kaya yang penting bagi peneliti dan para pihak yang berminat. Terutama, aparat keamanan dan siapa yang tertarik menelusuri akar fundamentalisme dan jejak berbagai aksi teror bom di Tanah Air. Otentisitas merupakan prasyarat yang harus dipenuhi bagi sebuah penelitian dokumen yang bersifat rahasia.
Selengkapnya...

PLURALISME AGAMA; HARAM


Resensi : Membongkar "Borok" Kesesatan JIL dan Ahmadiyah
Oleh: Rahmat Hidayat Nasution *

Ada musibah yang lebih menakutkan dibanding ledakan gunung Merapi yang kini sedang berstatus waspada. Dua diantara Musibah itu 'jaringan Islam Liberal' dan 'Jamaah Ahmadiyah'Ternyata, Indonesia saat ini sedang dihadapi dua musibah besar. Yaitu musibah akan meletusnya gunung merapi dan musibah "meletusnya" kembali "gaung" jaringan Islam Liberal. Tepatnya pada tanggal 17 April 2006, Dawam Raharjo dan teman-temannya melakukan demo terhadap menteri Agama RI, Maftuh Basumi dengan menggunakan jargon Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan, untuk mencabut pernyataanya tentang sesatnya ajaran Ahmadiyah dan meminta maaf secara terbuka melalui media cetak dan elektronik atasan ucapannya.


Akting Dawam Raharjo pada saat ini hampir sama dengan akting yang diperankan Gus Dur dan kawan-kawan ketika menolak Fatwa MUI tentang sesatnya paham Ahmadiyah dan pelarangan pemahaman pluralisme agama, sekulerisme, dan liberalisme. Hanya bedanya, pada "episode" kali ini, Dawam Raharjo dan teman-temannya selain mengeluarkan tiga somasi, juga ada sedikit "nada" pengancaman terhadap Menteri Agama RI jika tidak menanggapi tuntutan mereka, maka skenario selanjutnya yang mereka tampilkan adalah menempuh jalur hukum. Sekalipun demikian, lakon kali ini, sebenarnya, hanya bertukar judul saja dengan apa yang terjadi pada Gus Dur dan kawan-kawannya terhadap fatwa MUI Juli 2005.Maka, cukup tepat sekali kebijakan yang dilakukan Menteri Agama RI untuk tidak akan mengajukan permintaan maaf terhadap jamaah Ahmadiyah, dan tidak mundur selangkah dalam menghadapi tekanan-tekanan di atas.
Dengan slogan "Maju terus pantang mundur" kayaknya Menteri Agama RI sudah siap menghadapi mereka. Apalagi, didukung olehFront Penanggulangan Ahmadiyah dan Aliran Sesat (FPAS).Itulah polemik yang tengah "meletus" pada saat ini. Adapun kewajiban kita sebagai muslim Indonesia saat ini adalah membantu Menteri Agama RI dari bahaya "letusan" yang dihembuskan oleh jaringan Islam Liberal. Caranya, dengan mengenal "borok" paham Islam liberal sendiri. Sebuah buku yang tebalnya 132 halaman dengan lebar 20,5 cm dengan data-data akurat dan analisa yang kritis telah memaparkan bebarapa "borok" jaringan Islam liberal. "Pluralisme Agama: Fatwa MUI yang Tegas dan Tidak kontroversial" adalah judul bukunya.Memang, bila dilihat sejarah buku ini merupakan "bayan" untuk menjelaskan fatwa MUI dalam munasnya yang ke-7 pada 25-29 Juli 2005, namun buku ini laik sekali untuk kita baca dalam memahami "borok-borok" yang terdapat dalam Jaringan Islam liberal dan menggugat kembali somasi yang dikeluarkan Dawam Raharjo. Karena, somasi-somasi yang dihaturkan Dawam Raharjo dan teman-temannya tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Gus Dur dulu. Jadi, dengan memahami buku ini, akan dapat menilai benarkah Menteri Agama RI, Maftuh Basyumi salah dalam mengeluarkan pendapatnya? Dan apakah benar Dawam Raharjo benar-benar telah menjadi manusia pluralis atau hanya mengaku-ngaku manusia pluralis saja?Adian Husaini, MA sebagai penulis tak ragu-ragu mengeluarkan data-data dan analisanya yang kritis terhadap kelompok Jaringan Islam Liberal. Sebelum menjelaskan "borok-borok" yang terdapat dalam Jaringan Islam Liberal, kata sambutan pada buku ini ditulis oleh Anis Malik Thoha, PhD, Dosen Perbandingan Agama di Universitas Islam International Malaysia.
Dalam kata sambutannya, Anis Malik Thoha membeberkan sejarah munculnya wacana pluralisme agama yang ada pada awal abad ke-20 yang dilakonkan oleh seorang teolog Kristen Jerman bernama Ermst Troeltsch. Juga, dalam kata sambutan itu dijelaskan dua kelemahan mendasar yang terdapat dalam paham pluralisme agama, yaitu pertama, kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri yang tidak toleran karena menafikan "kebenaran ekslusif" sebuah agama. Kedua, Adanya "pemaksaan" nilai-nilai dan budaya Barat (westernisasi), terhadap negara-negara belahan di dunia bagian Timur, dengan berbagai bentuk dan cara.Dalam buku ini, penulis tak hanya membahas pro-kontra fatwa MUI saja. Juga membahas tentang Pluralisme Agama dan Dampaknya, Menjawab Propaganda Pluralisme, Ekslusivitas Islam dan The Da Vinci Code Problema Teologi Kristen, dan Pluralisme Agama.
Dalam Sub bab Koalisi Liberal-Ahmadiyah Vs MUI, Adian Husaini mencoba menampilkan visualisasi keprihatinan Aliansi Masayarkat Madani atas larangan dan tudingan sesat terhadap Ahmadiyah. Dawam Raharjo juga menjadi salah satu anggota aliansi tersebut, dan komentarnya pada waktu itu nyaris tak jauh berbeda dengan apa yang dituduhkannya kepada Maftuh Basyumi saat ini. Dawam Raharjo menilai bahwa MUI justru menjadi sumber konfilk agama dan tidak menghargai hak asasi manusia. Penilaiannya itu selaras dalam somasi kedua dan ketiga yang diajukannya kepada Menteri Agama RI, Maftuh Basyumi.Selanjutnya, Adian Husaini menyuguhkan kepada pembaca tentang pluralisme agama dan dampaknya. Dalam bab ini, Adian Husaini "membeberkan" kepada pembaca bahwa ide persamaan agama yang digaungkan oleh kaum pluralis di Indonesia saat ini, sebenarnya benih-benihnya sudah ditabur sejak zaman penjajahan Belanda dengan merebaknya ajaran kelompok Theosofi. Bahkan, pada tahun 1970-1980-an sempat muncul gagasan pendidikan panca Agama di sekolah-sekolah. Tetapi tokoh-tokoh umat ketika itu beraksi keras dengan melakukan berbagai macam protes, sehingga program itu digagalkan. Di antara salah satu tokoh umat Islam yang tampil membantah keras ide persamaan agama itu adalah Dr. Rasjidi dalam bukunya "Empat Kuliah Agama di Perguruan Tinggi". (hal. 33-34).
Pada bab selanjutnya, Adian Husaini memberikan jawaban terhadap Ide pluralisme agama dengan mengajak pembaca berfikir, apakah bisa tauhid bersandingan dengan syirik? Sebagaimana dipahami bahwa pluralisme agama adalah suatu paham yang melegitimasi dan mendukung kekufuran dan kemusyrikan, sedangkan Islam adalah agama yang benar-benar memurnikan Allah dari perbuatan syirik atau agama yang benar-benar mentauhidkan Allah, " Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari itu, bagi siapa yang dikehendakinya. Barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah melakukan dosa yang sangat besar." (QS. An-Nisa: 48). Dengan ayat ini, sudah jelas bahwa Allah sangat murka dengan kemusyrikan, sedangkan pluralisme agama melegitimasi segala jenis kemungkaran dan kemusyrikan. Pluralisme agama jelas membongkar Islam dari konsep dasarnya.
Tidak ada lagi konsep mukmin, kafir, syirik, surga, neraka dan sebagainya. Karena itu mustahil paham pluralisme dapat hidup berdampingan secara damai dengan tauhid Islam. (hal.83-84)Selain itu, Adian Husaini juga membongkar "borok" yang terdapat dalam aliran Ahmadiyah. Dalam konsepsi Ahmdiyah, tulis Adian, tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan tentang wahyu, misalnya, jelas-jelas telah mengorupsi konsep dasar Islam tentang kenabian. Mirza mengucapkan, "Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaiman sudah dikemukakan dalam Bahrain Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatkan manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, aku Seth, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya'kub, aku Yusuf, aku Daud, aku Musa, aku Isa, aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad Saw., yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi." Ajaran seperti ini jelas telah menggerogoti ajaran agama Islam yang asli dan setandar.
Oknum-oknum internal seakan-akan mengajarkan Islam, padahal mengajarkan ajaran palsu yang jelas-jelas diluar standar Islam itu sendiri. (hal. 93)Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang menggeluti pemikiran Islam dan para dai muslim Indonesia, tetapi juga penting bagi masyarakat awam yang ingin mengetauhi letak-letak kesalahan paham pluralisme. Minimal bisa membantu khazanah keislaman kita agar tidak terjebak dalam konsep pluralis. (Hidayatullah)[Penulis adalah mahasiswa universitas al-Azhar Kairo, Mesir, Fakultas Syariah Islamiyah, Tingkat III dan menjabat sebagai Koordinator kajian As-Safiir HMM-Kairo, Mesir]
Selengkapnya...

SUKARNO FILE

Penulis: Antonie C.A.Dake

Resensi buku oleh Erros Jarot

Soekarno dan Pembunuhan Jenderal TNI

Sebuah buku berjudul “SUKARNO FILE, Berkas-berkas Soekarno 1965-1967: Kronologi Suatu Keruntuhan” karya Antonie C.A. Dake, mengungkapkan, bahwa Soekarno adalah perancang peristiwa pembunuhan berencana terhadap sejumlah perwira tinggi TNI-AD di tahun 1965 yang kemudian dikenal dengan sebutan peristiwa G30S/PKI. Soekarno memberikan lampu hijau kepada sejumlah perwira yang loyal kepadanya untuk “menyelesaikan masalah” berkenaan dengan adanya sejumlah jenderal yang tidak loyal kepada BK dan anti-komunisme.Pada buku ini juga dimuat lampiran berkas BAP (berita Acara Pemeriksaan) Kolonel KKO Bambang Setijono Widjanarko (BSW) yang ketika itu menjabat sebagai Asisten Kepala Persmil AL.

Pada BAP tanggal 22 Oktober 1970, BSW mengatakan, Perwira-perwira Tinggi AD yang dibunuh pada peristiwa G30S/PKI adalah Perwira-perwira Tinggi AD yang dianggap tidak loyal oleh Bung Karno, dan mereka juga termasuk Pati yang tidak disukai oleh PKI.Menurut kesaksian BSW, “Tentang hubungan antara PKI dan Bung KARNO sehingga terdjadinja pembunuhan terhadap Pati2 tersebut, jang djelas kedua fihak (PKI + BK) mempunyai satu kepentingan. Bung KARNO menghendaki disingkirkannja para Pati yang dianggap tidak loyal dan PKI menghendaki hilangnja para Pati tersebut jang anti komunis.”Selanjutnya, BSW menuturkan, “Dalam penjingkiran/pembunuhan para Pati tersebut terdapat djuga adanja hubungan, jakni Bung KARNO mempertjajai bekas Letkol UNTUNG dan bekas Brigdjen SUPARDJO, dimana orang-orang ini djelas merupakan orang PKI.”“... Beberapa kali saja mendengar/mengetahui bahwa Djenderal YANI dan Djenderal NASUTION memberi nasehat pada Bung KARNO supaja Bung KARNO djangan terlalu memberi angin pada PKI; agar Bung KARNO ingat pada peristiwa pengchianatan PKI di Madiun (1948).”Menjelang terjadinya pembunuhan jenderal, BK sudah mendapat laporan tertulis dari Letnan Kolonel Untung. “… Pada tanggal 30 September 1965 + djam 22.00 di Istora Senajan memang benar Bung KARNO menerima surat dari bekas Letkol UNTUNG...”“... Jang saja ingat, setelah membatja surat tersebut Bung KARNO kelihatan “tevreden” dan meng-angguk2kan kepala, tanpa berkata apa2. Surat dimasukkan kembali kedalam saku djasnja. Setelah itu Bung KARNO kembali lagi ketempat duduk/tempat upatjara…”“… Pada giliran Bung KARNO menjampaikan pidato sambutannja, kelihatan benar betapa semangat dan gembiranja. Isi dan tjara pidato sangat ber-api2, membakar semangat...”“... Dengan pengetahuan adanja Djenderal2 AD jang tidak disenangi Bung KARNO, adanja perintah kepada Djenderal SABUR supaja menindak Djenderal2 tersebut, adanja pemanggilan terhadap bekas Letkol UNTUNG oleh Bung Karno pada tgl 4 Agustus 1965, adanya reaksi Bung KARNO jang kelihatan tevreden setelah menerima surat dari bekas Letkol UNTUNG itu, sekarang saja dapat memperkirakan bahwa isi surat tersebut adalah suatu pemberitahuan dari UNTUNG pada Bung KARNO tentang akan dimulainja gerakan menindak para Djenderal.” Pasca pembunuhan jenderal, BK yang saat itu berada di Halim mendapat laporan dari SABUR. “Pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi sewaktu bekas Brigdjen SUPARDJO tiba di Halim dan melaporkan pada Bung KARNO (+ djam ...), saja belum berada di situ. Saja tiba di Halim pada + djam 11.30. Setelah saja tiba di Halim dan bertemu dengan rombongan Bung KARNO barulah saja mendengar tjeritera/keterangan tentang pertemuan Bung KARNO dan bekas Brigdjen SUPARDJO itu. Jang memberi keterangan pada saja ini adalah Kolonel SAELAN, AKBP MANGIL dan SUPARTO.”“... Bekas Brigdjen SUPARDJO telah melaporkan kepada Bung KARNO bahwa tugas jang dibebankan kepadanja untuk mengambil tindakan terhadap Djenderal2 AD telah dilaksanakan...” “...Djenderal jang telah berhasil diambil dari rumahnja adalah: 1. Djenderal YANI, 2. Djenderal PARMAN, 3. Djenderal HARJONO, 4. Djenderal SUTOJO, 5. Djenderal SUPRAPTO, 6. Djenderal PANDJAITAN, sedangkan Djenderal NASUTION jang djuga didjadikan sasaran telah lolos...”“... Bung KARNO menganggap dan memperlakukan bekas Brigdjen SUPARDJO sebagai Komandan jang memimpin tindakan gerakan pembersihan dan rupanja telah mengetahui sebelumnja bahwa bekas Brigdjen SUPARDJO itulah pelaksana utamanja...”“... Sewaktu dan setelah menerima laporan dari bekas Brigdjen SUPARDJO, Bung KARNO kelihatan tevreden, sambil menepuk-nepuk nahu SUPARDJO ia berkata: “Je hebt goed gedaan. Kenapa NASUTION kok lolos...”Kesaksian BSW sebagaimana tertuang di dalam BAP di atas, selama pemerintahan Soeharto tidak pernah bisa dipublikasikan. Kekuatan Soeharto telah berhasil menutup fakta sejarah tentang keterlibatan BK di dalam peristiwa berdarah yang menewaskan enam jenderal dan Letnan Satu Pierre Tendean (ajudan Menko Hankam/Kasab Jenderal NASUTION), serta Ade Irma Suryani (anak NASUTION).Jika saja, Soeharto membiarkan fakta dan data keterlibatan BK di dalam perencanaan eksekusi jenderal TNI-AD itu bergulir apa adanya pada saat ia memegang kekuasaan, niscaya BK dan keluarganya akan dicincang-cincang oleh rakyat. Dan boleh jadi, Megawati tidak akan pernah menjadi presiden. Jangankan jadi presiden, bisa jadi anggota partai saja mungkin merupakan suatu hal yang musykil.Kebijakan Soeharto ‘melindungi’ BK sebagai dalang utama pembunuhan para jenderal, menyebabkan BK menjadi pujaan banyak orang, karena ia diposisikan sebagai tokoh yang ditelantarkan Soeharto.Akibat ‘kebaikan’ Soeharto, maka nama BK tetap harum sebagai proklamator, bahkan anak-cucunya turut memperoleh anugerah ini, padahal sesungguhnya BK adalah bajingan di balik pembunuhan jenderal. BK juga bajingan yang menyebabkan paham komunisme tumbuh subur di Indonesia. BK juga telah menyebabkan sejumlah ulama (NU) menjadi ahli neraka karena telah menerima konsep Nasakom dan memberikan gelar Waliyyul Amri Ad-Dharury Bisy-Syaukah kepada BK, yang maknanya menjadikan BK sebagai pemimpin ummat Islam, padahal BK tidak pernah shalat.
Selengkapnya...

MEMBONGKAR JAMAAH ISLAMIAH

Penulis: Nasir Abas

Keberadaan Jamaah Islamiyah (JI) yang mengundang kontroversi sejak awal disebutkannya nama ini, mendapat ketegasan dari Nasir Abas. Ia adalah salah seorang mantan petinggi JI yang membukukan pengakuannya setebal 332 halaman.Menurut Nasir Abas, JI dibentuk pada Januari 1993, dan merupakan percahan dari jamaah Darul Islam (DI) atau dikenal dengan nama NII (Negara Islam Indonesia). Khususnya setelah terjadi perpecahan antara Abdullah Sungkar (Ust. Abdul Halim) dan Abu Bakar Ba’asyir (Ust. Abdus Somad) pada satu sisi dengan Ajengan Masduki pada sisi lain. (hal. 85 dan 92).Pengakuan Nasir Abas sesungguhnya bukan merupakan pengakuan yang pertama yang pernah disampaikan para mantan anggota JI. Sekitar September 2003, lima anggota JI pernah mengungkapkan keberadaan JI, di hadapan Amidhan (MUI), Idrus Marham (KNPI) dan Naufal mewakili Front Hizbullah.Sedikit berbeda dengan Nasir Abas, kelima mantan anggota JI ini menyebutkan bahwa JI dirintis sejak tahun 1992 di Malaysia, yang dirintis Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir dengan cikal bakal basis gerakan Darul Islam atau NII (Negara Islam Indonesia).
Mereka juga mengaku terlibat di dalam konflik Maluku, Ambon, dan Poso.Pasca wafatnya Abdullah Sungkar, menurut kelima mantan anggota JI tersebut, terjadi perpecahan dalam tubuh Jama’ah Islamiyah. Faksi pertama adalah Faksi Ideologis (tetap dalam garis khittah PUPJI: Pedoman Umum Perjuangan Jama’ah Islamiyah berformat Dakwah dan Jihad) dengan struktur gerakan bersifat klandestein di bawah kepemimpinan Abu Rushdan, terhitung sejak Abu Bakar Ba’asyir menjadi Amir MMI tahun 2000. Faksi kedua, Faksi Moderat dengan struktur organisasi legal dan terbuka, tidak berafiliasi kepada partai, memperjuangkan tegaknya syari’at melalui pemilu. Format gerakan mereka MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) berbasis anggota heterogen (bervariasi dan tidak melulu mantan mujahidin Afghan, Moro, Ambon dan Poso) dipimpin Abu Bakar Ba’asyir. Faksi ketiga adalah JI faksi liar, radikal dan ekstrem yang terlibat dalam aksi kekerasan bom Kedubes Filipina, Natal 2000, Legian Bali dan Marriott Jakarta di bawah komando Hambali dan Zulkarnaen.

Menurut Nasir Abas, pada 1993 terdapat dua Mantiqi di lingkungan JI. Pertama Mantiqi Ula (I) dipimpin Hambali, meliputi Malaysia (termasuk Sabah) dan Singapura. Kedua, Mantiqi Tsani (II), dipimpin Abu Fateh, meliputi Indonesia (Kalimantan dan Sulawesi).Tahun 1997, terjadi perubahan lagi. Mantiqi Ula (I) dipimpin Hambali, meliputi Malaysia Barat (Semenanjung) dan Singapura. Mantiqi Tsani, dipimpin Abu Fateh, meliputi Indonesia (Jawa, Sumatera, Bali, NTB dan NTT). Mantiqi Tsalis (III) dipimpin Mustapha, meliputi Sabah (Malaysia), Kalimantan Timur (Indonesia), Palu Sulawesi Tengah (Indonesia), Mindanao Filipina Selatan (termasuk Kamp Latihan Hudaybiyah).Pada April 2001 terjadi perubahan kepemimpinan. Hambili digantikan Mukhlas (Mantiqi Ula). Abu Fateh digantikan Nuaim (Mantiqi Tsani), Mustapha digantikan Nasir Abas (Mantiqi Tsalis). Sedangkan Mantiqi Ukhro tetap dipimpin Abdurrahim. (hal. 120).

Pada buku ini Nasir Abas juga mengulas kebohongan Imam Samudra (hal. 183) yang pernah membukukan pengalamannya melalui buku berjudul Aku Melawan Teroris. Misalnya soal Khowst yang oleh Imam Samudera disebut sebagai nama tempat yang didatanginya, padahal menurut Nasir Abas, Khowst adalah nama ssebuah kota yang pada tahun 1990 masih dikuasai pemerintah komunis Afghanistan.Nasir Abas juga menilai, Imam Samudera yang terlibat kasus Bom Bali pertama, adalah perbuatan yang keliru. “Meski niatnya benar untuk mati syahid, namun karena cara pelaksanaannya salah, maka tetap salah…” (hal. 263).Berkenaan dengan keluarnya Nasir Abas dari JI, dijelaskan, “Keluarnya saya dari Al-Jamaah Al-Islamiyah bertujuan ingin menyelamatkan umat Islam, sebatas kemampuan saya, agar tidak terpengaruh dengan faham yang keliru, dan agar umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya tidak menjadi sasaran pemboman dan penyerangan yang dilakukan tanpa alasan syar’i dan manusiawi.” (hal. 312).Pada halaman 315, Nasir Abas mengatakan, “Perjuangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang keliuru dalam pemahaman Jihad itu bukan lagi untuk menghilangkan ‘fitnah’, tetapi perjuangan mereka adalah mendatangkan ‘fitnah’, dan perjuangan mereka menimbulkan ‘fitnah’ kepada umat Islam…”“Saya menghimbau dan menyerukan kepada semua teman-teman dan semua orang-orang yang masih mempunyai niat untuk melakukan aksi pemboman dengan sasaran apapun dan siapapun, agar dihentikan dan segera bertaubat kepada Allah SWT.” (hal. 317).

Sebagai media yang ditujukan untuk membendung aksi terorisme khususnya yang dikaitkan dengan JI, buku ini seharusnya cukup efektif. Oleh karena itu buku sejenis ini seharusnya mudah ditemui di berbagai toko buku, sehingga semakin banyak angota masyarakat yang membacanya. Apalagi bila buku ini diteritkan pula dalam bentuk e-book, sehingga bisa diakses oleh siapa saja di seluruh pelosok dunia.
Selengkapnya...

State of War

"The Secret History of the CIA and the Bush Administration' "

Buku Baru Tentang Operasi Rahasia AS


Sebuah buku terbaru tentang operasi rahasia CIA di Iraq. State of War:The Secret History of the CIA and the Bush Administration' hanya ambisi pemerintah Bush Sebuah buku baru tentang operasi rahasia pemerintah AS terhadap terorisme membeberkan bagaimana CIA (Badan Intelijen Pusat) merekrut seorang pakar ilmu bius warga Iraq-Amerika di tahun 2002 untuk mendapatkan informasi dari abangnya, seorang tokoh yang menangani program nuklir Saddam Hussein. Dr. Sawsan Alhaddad dari Cleveland mengadakan perjalanan berbahaya ke Iraq demi CIA. Buku itu mengatakan saudara laki-lakinya terkejut dengan pertanyaannya soal program nuklir karena, katanya, program tersebut telah dihentikan selama satu dekade (sepuluh tahun).



Wartawan New York Times (NYT) James Risen menuliskan anekdot tersebut untuk menggambarkan bagaimana CIA sengaja mengabaikan informasi bahwa Iraq tidak lagi memiliki senjata penghancur massal. Bukunya yang berjudul 'State of War: The Secret History of the CIA and the Bush Administration' menggambarkan operasi rahasia perang terorisme yang dilancarkan pemerintah Bush. Pengungkapan terang-terangan dalam buku itu menjadi inti laporan ekstensif suratkabar NYT tentang kebijakan menyadap telepon yang dilakukan Badan Keamanan Nasional (NSA). Buku tersebut mengatakan Dr. Alhaddad pulang ke negaranya pertengahan September 2002 dan melakukan serangkaian pertemuan dengan analis CIA.


Dia menyampaikan informasi dari saudara laki-lakinya itu bahwa tidak ada lagi program nuklir di Irak. Seorang tokoh CIA kemudian mengatakan kepada suami Dr. Alhaddad bahwa badan itu meyakini saudara laki-lakinya itu berbohong. Secara keseluruhan, buku itu mengatakan, sekitar 30 anggota keluarga Iraq kembali ke negara asal mereka untuk menghubungi para pakar senjata Iraq, dan mereka semua melaporkan program itu sudah dihentikan. Oktober 2002, sebulan setelah perjalanan dokter tersebut ke Baghdad, badan intelijen AS itu mengeluarkan Perkiraan Intelijen Nasional yang menyimpulkan Iraq memulai kembali program nuklirnya. Dalam buku itu, yang mengutip secara luas narasumber tak bernama, Risen mengatakan program mata-mata NSA dilakukan tahun 2002 setelah CIA mulai menangkapi tokoh-tokoh penting --yang selalu disebut AS sebagai Al-Qaidah di luar negeri-- dan mengambil komputer, telepon selular dan telepon pribadi mereka. CIA kemudian menyerahkan nomor telepon dan alamat e-mail dari alat komunikasi tersebut kepada NSA, yang kemudian mulai memantau nomor telepon tersebut, kata buku itu, yang mengatakan hal ini mengarah kepada perluasan pemantauan, baik di luar negeri dan di AS sendiri. Dalam bab lain tentang sebuah 'operasi merah', buku itu mengatakan seorang tokoh CIA secara keliru mengirim seorang dari sejumlah agen Irannya yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi setiap mata-mata yang dimiliki badan intelijen itu di Iran. Buku itu mengatakan sang agen tersebut ternyata seorang agen ganda yang kemudian menyerahkan data tersebut kepada pejabat keamanan Iran. Buku itu mengatakan informasi tersebut mengacaukan jaringan mata-mata CIA di Iran, dan mengutip sumber CIA yang mengatakan akibatnya beberapa agen AS ditangkap dan di penjara.

Selengkapnya...

Confessions of an Economic Hit Man


(Pengakuan seorang Preman Ekonomi) Penulis buku: John Perkins Penerbit : Berrett-Koehler Publishers, Inc., San Francisco ISBN : 1-57675-301-82004 250 hlm Secara sederhana, judul buku berbahasa Inggris ini bisa diterjemahkan sebagai “Pengakuan seorang Preman Ekonomi” -- mungkin terdengar kurang ilmiah, atau kurang mengikuti peristilahan formal ilmu ekonomi. Dalam bahasa Inggris, Economic Hit Man—atau dalam buku ini disingkat menjadi EHM—juga tidak dikenal wacana ekonomi umum. Di sinilah letaknya keunikan buku ini: melalui pengakuannya ini, John Perkins menguak tabir rahasia yang menutupi berbagai rekayasa politik ekonomi serta strategi korporatis yang kini dikenal sebagai globalisasi. Buku ini menceritakan pengalaman penulis sendiri yang pada tahun 1970an dan 1980an bekerja sebagai konsultan ekonomi, khususnya membuat prediksi perekonomian (economic forecaster), pada P.T. MAIN, perusahaan yang bergerak di bidang perlistrikan dan pada tahun 1970an awal (jadi pada awal berdirinya Orde Baru di bawah Soeharto) membuka kerjasama dengan Perusahaan Listrik Negara Indonesia.
Perkins sendiri direkrut oleh perusahaan tersebut untuk memulai kariernya sebagai EHM dengan penugasan pertama ke Indonesia untuk membangun sistem perlistrikan baru untuk melayani bidang perindustrian (ringan) yang sedang dirancang. Barangkali isu yang paling penting dalam buku ini ialah bagaimana berbagai proyek pembangunan—dan terutama pembangunan infrastruktur yang saat ini sedang melejit lagi—menjadi sarana untuk menjerat negara-negara yang sedang membangun dalam libatan hutang tanpa ujung, hutang yang menyengsarakan rakyat sambil menambah kekayaan korporasi. Di Amerika, si penulis mengalami kesulitan mencari penerbit. Kalangan penerbit mainstream rata-rata menolak menerbitkan naskahnya. Penerbit yang berminat mengatakan bisa menerbitkan kalau diterbitkan sebagai karya fiksi, bukan sebagai laporan kenyataan, apalagi sebagai pengakuan. Akhirnya, buku ini diterbitkan oleh pers alternatif kecil di San Francisco yang tidak dimiliki korporasi internasional. Keresahan penerbit yang menolaknya dapat dibayangkan dari pembukaan buku ini:“Economic hit men (EHMs—Preman Ekonomi) adalah profesional2 dengan bayaran tinggi yang melakukan penipuan bernilai trilyunan dollar terhadap negara-negara di seantero bumi. Mereka menyalurkan uang dari Bank Dunia (World Bank), U.S. Agency for International Development (USAID-Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional, sebuah badan pemerintah), dan organisasi2 “bantuan” lainnya supaya masuk ke pundi2 korporasi2 besar dan kocek segelintir keluarga kaya yang mengendalikan sumberdaya alam seluruh planit bumi. Alat-alatnya termasuk laporan2 keuangan palsu, pemilihan umum yang direkayasa, uang sogok, sumbangan2 paksa, sex, dan pembunuhan. Mereka memainkan sebuah permainan yang sudah setua imperium, tetapi yang sekarang telah mempunyai dimensi2 baru yang sangat mengerikan dalam masa globalisasi ini.Sudah sepantasnya saya tahu; saya sendiri seorang EHM.”Buku tersebut didedikasikan penulis kepada presiden dari dua negara yang pernah menjadi kliennya: Jaime Roldos, presiden Ecuador, dan Omar Torrijos, presiden Panama, yang keduanya tewas dalam kecelakaan kendaraan. Menurut penulis, kematian mereka bukan kecelakaan; mereka sebenarnya dibunuh karena menentang konspirasi korporasi, pemerintah dan kepala2 bank yang bertujuan mendirikan imperium global. Karena para EHM sendiri tidak berhasil mengubah haluan politik ekonomi Roldos dan Torrijos, maka pembunuh2 yang direstui CIA mengambil alih tugas mereka.Kutipan di atas ditulis untuk pertama kali pada tahun 1982, tetapi setiap kali, si penulis menerima ancaman atau sogokan besar untuk menghentikan pekerjaannya itu. Seorang penerbit mainstream sangat tertarik pada buku itu tetapi ia terpaksa menolaknya karena ia tahu bahwa ia tidak bisa mengambil risiko menerbitkan buku itu karena kepala-kepala eksekutifnya tidak akan menyetujuinya. Si penulis bercerita bagaimana pelatihnya (seorang perempuan bernama Claudine) mengatakan, “Tugasku ialah untuk membentukmu menjadi seorang preman ekonomi. Tidak seorang pun yang boleh mengetahui keterlibatanmu, bahkan isterimu tidak boleh.” Cerita mengenai Claudine ini membeberkan cara2 rekayasa yang dipakai dalam rekrutmen dan pelatihan EHM: “Ia cantik dan pandai, dan sangat efektif; ia memahami kelemahan2ku dan menggunakannya sebagai peluang besar. … Claudine tidak menggambarkan tugas2ku dengan halus. Tugasku, katanya, ialah ‘untuk mendorong supaya pemimpin2 dunia menjadi bagian dari jaringan luas yang memajukan kepentingan ekonomi AS. Pada akhirnya, pemimpin2 itu akan terjerat dalam libatan hutang dan ini menjamin loyalitas mereka. Kami akan bisa menggunakan mereka kapan saja kami inginkan—untuk memenuhi kebutuhan2 politik, ekonomi atau militer kami. Sebaliknya, mereka memperkuat posisi politik mereka dengan cara memberi zona2 industri modern, pembangkit tenaga listrik, dan lapangan terbang kepada rakyat mereka. Pemilik2 perusahaan engineering/konstruksi AS akan menjadi amat sangat kaya.”Lanjut Perkins,“Sekarang ini kita melihat hasil2 sistem ini yang sudah mengamuk tanpa batasan. Para eksekutif di perusahaan2 kami yang paling dihormati menyewa orang dengan upah mirip dengan upah hamba untuk bekerja dalam kondisi tak manusiawi di gudang2 keringat Asia. Perusahaan2 minyak semau-maunya membuang limbah racunnya ke dalam sungai2 hutan, dengan sadar membunuh manusia, hewan dan tanaman, dan melakukan genosida terhadap kebudayaan2 kuno. Industri pharmaci menolak memberikan obat2an yang menyelamatkan kepada berjuta orang Afrika yang kena HIV. Duabelas juta keluarga di Amerika Serikat sendiri kekurangan pangan. Industri enerji mencipta Enron. Industri akuntansi mencipta Anderson. Rasio pendapatan 1/5 penduduk dunia di negara2 terkaya dengan pendapatan 1/5 penduduk dunia termiskin melejit dari 30 banding 1 pada tahun 1960 menjadi 74 banding 1 pada tahun 1995. Amerika Serikat mengeluarkan lebih dari $87 milyar untuk berperang di Irak, sementara PBB memperkirakan bahwa dengan jumlah yang tidak sampai separuh jumlah itu, kita bisa menyediakan air bersih, gizi yang layak, layanan sanitasi, dan pendidikan dasar bagi setiap manusia di bumi.”Dan Perkins bertanya: “Dan kami heran kenapa kami diserang teroris?”Sebagai seorang preman ekonomi, Perkins bertanggungjawab untuk membuat forecast ekonomi untuk proyek besar (di Indonesia, proyek listrik) yang mendukung proyek pembangunan tersebut. Segala hal yang tidak mendukung, tidak boleh dimasukkan, terutama dampak negatif bagi penduduk yang sudah miskin. Perkins bercerita bagaimana seorang forecaster ekonomi senior Amerika dipecat karena hanya membuat “load forecast” (untuk menghitung proyeksi kebutuhan beban listrik) sebesar 8% per tahun. “Delapan persen setahun. Itulah load forecast yang dibuatnya. Percayakah anda? Dalam negara yang begitu potensial seperti Indonesia!” (hal. 52). Lanjutnya, “Charlie Illingworth mengatakan bahwa forecast ekonomi anda tepat sekali dan akan membenarkan pertumbuhan beban listrik antara 17 dan 20%. Tepatkah itu?’“’Saya mengatakan itu tepat.Ia berdiri dan menjabat tanganku. ‘Congratulations. Kamu baru mendapat promosi.’” (hal 53). Setelah itu si penulis bekerja keras untuk menghasilkan forecast yang dibutuhkan. “Saya memusatkan perhatian pada penulisan laporan mengenai ekonomi Indonesia dan mengubah forecast beban Howard (ekonomi yang dipecat). Saya menghasilkan jenis studi yang diinginkan para boss saya: pertumbuhan pada permintaan listrik rata2 19 percent per tahun sepanjang 12 tahun setelah sistem baru diselesaikan, menurun menjadi 17 persen selama 8 tahun berikutnya, kemudian stabil pada tingkat 15 persen untuk sisa masa proyeksi yang seluruhnya berjangka 25 tahun.” Ketika ia sendiri mengalami keraguan, ia mengingat nasehat yang pernah diberi Claudine: “Siapa yang bisa melihat 25 tahun ke depan?...Tebakanmu sama sahnya dengan tebakanku. Percaya diri adalah segala-galanya.” Dengan modal percaya diri ini, laporannya diterima dan menentukan pembangunan infrastruktur listrik untuk Indonesia. Dan siklus jerat hutang bermilyar dollar yang masih mengancam kehidupan warganegara sampai hari ini. Subsidi BBM dicabut, pendidikan umum dan kesehatan diswastakan. Masalah2 besar ini yang sesungguhnya merupakan ancaman terbesar yang membuat masyarakat resah dan merasa tak aman. Buku ini juga bercerita mengenai keterlibatan penulis dalam proyek2 pembangunan di Arab Saudi, keterlibatan para EHM di Iran dan di negara2 Amerika Tengah dan Selatan. Kadang2 memang terasa menjadi sangat pribadi, tapi justru kelihaian yang merekrut preman2 ini ialah menggunakan kerinduan2 pribadi, kerinduan akan kasih sayang, akan nama terhormat, akan kekayaan.

Confessions of an Economic Hit Man
Barangkali Anda tertarik dengan teori konspirasi, terutama yang ada kaitannya dengan bisnis global dan ekonomi dunia. Teori ini, meskipun saya pribadi menganggap "biasa-biasa" saja, tetapi mungkin cukup menarik untuk dibaca dan direnungkan. Dan ya, berikut saya kutipkan transkrip wawancara dengan John Perkins, mantan anggota "perusak ekonomi" (economic hit men) yang baru saja merilis buku berjudul Confessions of an Economic Hit Man.Kami mewawancarai John Perkins, mantan anggota terhormat komunitas bankir internasional. Dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man, ia menjelaskan bagaimana sebagai seorang profesional yang dibayar mahal, ia membantu Amerika mencurangi dan menipu negara-negara miskin di dunia dengan trilyunan dolar, meminjamkan mereka utang yang melebihi kemampuan mereka untuk membayar, dan kemudian menguasainya. Berikut transrip wawancaranya.John Perkins menceritakan dirinya sebagai mantan "anggota perusak ekonomi" (economic hit men) - seorang profesional yang dibayar mahal untuk mencurangi negara-negara di dunia dengan triliunan dolar. (Sebenarnya) 20 tahun yang lalu Perkins telah memulai menulis buku dengan judul, Conscience of an Economic Hit Men.Perkins menulis, "Buku ini didedikasikan untuk presiden di dua negara, mereka yang telah menjadi klien dan saya sangat respek pada spirit kebaikannya, yaitu Jaime Roldós (presiden Ekuador) dan Omar Torrijos (presiden Panama). Keduanya terbunuh dalam kecelakaan yang mengerikan. Kematian mereka bukan karena kecelakaan. Mereka dibunuh karena mereka menolak bekerjasama dengan perusahaan, pemerintahan, dan pimpinan perbankan yang mempunyai tujuan menjadi imperium dunia (Amerika). Kami para perusak ekonomi (economic hit men), telah gagal mempengaruhi Roldós dan Torrijos, dan para perusak "jenis yang lain" yaitu CIA-"serigala pengeksekusi" yang selalu di belakang kita, kemudian melakukan tindakan.John Perkins meneruskan: "Saya dibujuk untuk menghentikan menulis buku itu. Saya telah memulainya empat kali selama dua puluh tahun ini. Pada tiap kejadian besar dunia, hal itu selalu mempengaruhi saya untuk menulis lagi: invasi Amerika ke Panama tahun 1980, Perang Teluk pertama, Somalia, dan kebangkitan Osama bin Laden. Tetapi, ancaman atau sogokan selalu membuat saya berhenti."Tapi kini, Perkins akhirnya mempublikasikan kejadian yang dialaminya. Buku ini diberi judul Confessions of an Economic Hit Man. John Perkins bersama kami di studio Firehouse.AMY GOODMAN John Perkins bergabung dengan kami di studio Firehouse. Selamat datang di Democracy Now!JOHN PERKINS Terima kasih Amy. Senang sekali bisa di sini.AMY GOODMAN Ini sebuah keberuntungan, membuat Anda bersama kami. Oke, jelaskan makna kata ini, "economic hit man" EHM., seperti halnya Anda menamakannya.JOHN PERKINS Pada dasarnya apa yang dilatih kepada kami dan apa pekerjaan kami adalah untuk membangun imperium Amerika. Membawa, merekayasa situasi dimana berbagai sumberdaya (dunia) sebisa mungkin keluar dan menuju negara ini (Amerika), menuju berbagai perusahaan kita, dan menuju pemerintahan kita, dan nyatanya kami telah mengerjakan dengan begitu berhasil. Kami telah membangun imperium terbesar dalam sejarah dunia. Ini dikerjakan lebih dari 50 tahun sejak Perang Dunia II, dengan kekuatan militer yang benar-benar sangat kecil. Hanya suatu kejadian yang amat jarang, yaitu Irak, dimana serbuan kekuatan militer sebagai tindakan paling akhir. Imperium ini, tidak seperti berbagai sejarah lain dunia, telah dibangun terutama melalui manipulasi ekonomi, melalui pencurangan, melaui penipuan, melalui bujukan sehingga mereka mengikuti jalan kita, melalui para economic hit men. Saya adalah salah satu bagian utama dari hal itu.AMY GOODMAN Bagaimana Anda bisa terlibat? Untuk siapa Anda bekerja?JOHN PERKINS Saya direkrut ketika saya kuliah bisnis di akhir 1960-an oleh Badan Keamanan Nasional (National Security Agency, NSA), institusi terbesar Amerika dan jarang dipahami sebagai organisasi mata-mata, tetapi sepenuhnya saya bekerja pada perusahaan swasta. Economic hit man yang pertama telah pulang kembali pada awal 1950-an, dimana Kermit Roosevelt (cucu dari Teddy) berhasil menumbangkan pemerintahan Iran. Sebuah pemerintahan yang terpilih secara demokratis, yaitu pemerintahan Mossadegh. Majalah Times pernah menjadikan Mossadegh sebagai sosok terpilih dunia (person of the year). Roosevelt telah melakukan begitu sukses, tanpa ada darah yang tumpah -atau mungkin sedikit- tapi tanpa intervensi militer, hanya mengeluarkan jutaan dolar dan telah bisa mengganti Mossadegh dengan seorang Shah dari Iran.Pada situasi itu, kami memahami bahwa tujuan economic hit man sangatlah baik. Kami tidak perlu khawatir ancaman perang dengan Rusia, jika kami berhasil melakukan hal seperti itu. Persoalannya adalah, Roosevelt agen CIA. Ia adalah pejabat pemerintahan. Jika ia tertangkap, ia akan mendatangkan banyak kesulitan. Ini pasti akan sangat memalukan. Lalu, dengan mempertimbangkan ini, keputusan yang diambil kemudian adalah menggunakan organisasi seperti CIA dan NSA untuk merekrut orang-orang potensial menjadi economic hit man, seperti saya. Kemudian, mengirim kami untuk bekerja pada perusahaan konsultan swasta, perusahaan rekayasa (engineering), perusahaan konstruksi, jadi kalau kami tertangkap, maka tak ada hubungannya dengan pemerintah.AMY GOODMAN Oke. Jelaskan perusahaan tempat Anda bekerja.JOHN PERKINS Perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan Chas. T. Main di Boston, Massachusetts. Di sana ada 2.000 pekerja, dan saya menjadi pimpinan ekonom. Saya mempunyai staf 50 orang. Tapi pekerjaan saya yang utama adalah pembuat transaksi (deal-making). Yaitu memberikan hutang pada negara lain, hutang raksasa, jauh lebih besar dari kemampuan mereka mengembalikan. Salah satu persyaratan dalam hutang itu —katakanlah dengan utang sebesar satu miliar dolar, kepada negara seperti Indonesia atau Ecuador— negara-negara itu akan memberikan kepada kita 90% dari hutang itu, kembali kepada sebuah perusahaaan Amerika, atau beberapa perusahaan Amerika, untuk membangun infrastruktur. Ada beberapa (perusahaan) yang sangat besar (Halliburton atau Bechtel). Perusahaan-perusahaan besar itu kemudian membangun sistem kelistrikan atau pelabuhan atau jalan tol, dan itu semua pada dasarnya hanya melayani (diakses) sebagian kecil penduduk, yaitu para orang-orang kaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan tetap saja terus berkubang, hidup dengan hutang raksasa yang tak mungkin dapat dibayar. Negara seperti Ekuador harus membayar hutang dengan 70% dari budget nasional mereka. Ini benar-benar terlalu berat bagi mereka. Lalu, kita meminta kompensasi minyak. Jadi, ketika kita ingin minyak, kita ke Ekuador dan tinggal menuntut, "Lihat, kamu tidak bisa membayar utangmu, maka berikan perusahaan-perusahaan minyakmu, hutan tropis Amazonmu yang dipenuhi minyak." Dan kini kita telah menguasai dan menghancurkan hutan tropis Amazon, menekan Ekuador untuk memberikannya kepada kita, karena mereka mempunyai hutang raksasa yang terakumulasi. Jadi kita buat hutang raksasa itu, sebagian besar akan kembali ke Amerika, sementara negeri itu (Ekuador) akan mendapat beban utang dengan bunga yang besar, dan menjadi pelayan kita, menjadi budak kita. Ini (Amerika) adalah sebuah imperium. Tak ada yang mengalahkannya. Ini adalah imperium raksasa. Ini benar-benar keberhasilan luar biasa.AMY GOODMAN Kita sedang berwawancara dengan John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man. Anda mengatakan karena sogokan dan alasan lain Anda tidak menulis buku ini dalam waktu lama. Apa maksud Anda? Siapa yang menyogok Anda atau siapa— apakah sogokan itu Anda terima?JOHN PERKINS Iya, saya menerima sogokan setengah juta dolar tahun 90-an untuk tidak menulis buku ini.AMY GOODMAN Dari?JOHN PERKINS Dari sebuah perusahaan besar rekayasa konstruksi.AMY GOODMAN Yang mana?JOHN PERKINS Bicara secara legal, ini bukanlah.. — Stoner-Webster. Bicara secara legal ini bukanlah sebuah sogokan, ini adalah.. - saya dibayar atas nama sebagai seorang konsultan. Ini semua legal. Tapi sebenarnya saya tak mengerjakan apa-apa. Saya sama sekali tak mengerjakan apa-apa. Ini sangat mudah dimengerti, seperti saya jelaskan dalam Confessions of an Economic Hit Man, itu adalah - saya adalah - itu mudah dimengerti ketika saya menerima uang itu sebagai konsultan mereka, saya tidak melakukan kerja berarti, tapi saya dilarang menulis buku apapun terkait dengan topik itu (pencurangan), ketika mereka mengetahui bahwa saya dalam proses penulisan buku ini, yang pada saat itu saya beri judul Conscience of an Economic Hit Man. Dan saya harus mengatakan pada kamu Amy, bahwa, kamu tahu, ini adalah kisah yang luar biasa - ini nyaris mirip cerita James Bond, betul-betul, dan maksud saya –AMY GOODMAN Tentu, itulah tentunya isi buku itu.JOHN PERKINS Iya, dan saat itu,… kamu tahu? Dan ketika saya direkrut NSA, mereka memeriksa saya seharian dengan mesin penguji kebohongan. Mereka menemukan semua kelemahan saya dan kemudian membujuk saya. Mereka menggunakan sarana yang paling kuat dalam kebudayaan kita yaitu seks, kekuasaan, dan uang, untuk mengalahkan saya. Saya berasal dari keluarga Inggris yang sangat tua, Calvinis, tertanam begitu kuat nilai-nilai moral. Saya pikir, kamu tahu, saya adalah orang yang baik sepenuhnya, dan saya pikir kisah tentang saya benar-benar memperlihatkan bagaimana kuatnya sistem itu dan begitu kuatnya pengaruh "candu" seks, uang, dan kekuasaan, sehingga dapat membujuk rayu, karenanya saya begitu terbuai dan terbujuk. Dan jika saya tidak mengalami sendiri sebagai economic hit man, saya pikir saya akan sangat sulit mempercayai, ada yang melakukan hal itu. Dan inilah mengapa saya menulis buku ini, karena negara kita (Amerika) betul-betul harus dimengerti, jika masyarakat dari bangsa ini memahami bagaimana sebenarnya kebijakan luar negeri kita, apa arti hutang luar negeri sebenarnya, bagaimana perusahaan-perusahaan kita bekerja, kemana uang pajak kita digunakan, saya tahu kita akan menuntut perubahan.AMY GOODMAN Kita sedang mewawancarai John Perkins. Pada buku Anda, Anda mengatakan bagaimana Anda membantu menjalankan sebuah rencana rahasia menyalurkan miliaran dolar ke Arab Saudi lalu petro-dolar (Arab) kembali ke ekonomi Amerika, dan kemudian mengikat hubungan antara Pemerintahan Arab dan pemerintahan Amerika berturut-turut. Jelaskan.JOHN PERKINS Ya, ini adalah suatu waktu yang mencengangkan. Saya mengingatnya dengan baik, kamu (Amy) mungkin terlalu muda untuk mengingatnya, tapi saya mengingatnya dengan baik. Di awal 70-an OPEC menggenggam kekuasaan itu, dan memotong suplai minyak. Mobil-mobil kita antre begitu panjang di pompa-pompa bensin. Negara ini (Amerika) takut akan mengalami lagi kejadian seperti tahun 1929 -depresi besar ekonomi- ini sama sekali tidak bisa diterima. Lalu, mereka - Departemen Keuangan (Treasury Department) menyewa saya dan beberapa economic hit men yang lain. Kami kemudian pergi ke Arab Saudi. Kami ..AMY GOODMAN Anda benar-benar yang dinamakan economic hit men, EHM.JOHN PERKINS Ya, itu adalah julukan bagi kami. Secara legal, saya adalah pimpinan ekonom. Kami menjuluki kami sendiri EHM. Ini sepertinya tak seorangpun yang bakal mempercayainya jika kami mengungkapkannya, kamu tahu? Dan, lalu, kami pergi ke Arab Saudi di awal 70-an. Kami tahu Arab Saudi adalah kunci untuk melepaskan kita dari ketergantungan, atau mengontrol situasi. Dan kami bekerja menyelesaikannya dimana Kerajaan Arab menyetujui mengirimkan hampir semua petro-dolar mereka (minyak/emas hitam) dan mereka menginvestasikan pada sekuritas-sekuritas pemerintahan Amerika (U.S. Government Securities). Departeman Keuangan menggunakan bunga dari sekuritas-sekuritas itu untuk menyewa perusahaan-perusahaan Amerika untuk membangun Arab Saudi-kota-kota baru, infrastruktur baru- dan kita mengerjakannya. Dan kerajaan Arab menyetujui untuk menjaga harga minyak dalam batas kemampuan jangkauan kita (Amerika), mereka telah melakukannya bertahun-tahun, dan kami menyetujui menjaga kekuasaan Kerajaan Arab selama mereka melakukan hal yang kita inginkan, kami telah berhasil melakukannya.Inilah salah satu alasan kita menyerang Irak. Pertama kalinya, di Irak kita mencoba menjalankan straegi yang sama, yang begitu berhasil di Arab Saudi, tapi Saddam Hussein tidak mau tunduk. Ketika skenario economic hit men ini gagal, langkah lain yang dilakukan adalah yang kita namakan "serigala-serigala" (the jackals). "Serigala-serigala" itu adalah CIA, dengan mengirimkan orang-orang "masuk" (Irak) dan mencoba menggerakkan sebuah kudeta atau revolusi. Jika ini tidak berhasil, mereka melakukan operasi pembunuhan atau mencobanya. Pada kasus Irak, mereka tak mampu menjangkau Saddam Hussein. Ia mempunyai—- pasukan penjaganya (bodyguards) terlalu tangguh, berlapis-lapis. Mereka (CIA) tak dapat menjangkaunya. Lalu mereka melakukan langkah ketiga "pertahanan", jika economic hit men dan the jackals gagal, langkah lain "pertahanan" itu adalah orang-orang kita dikirimkan untuk terbunuh dan membunuh, inilah yang nyata-nyata telah kita kerjakan di Irak.AMY GOODMAN Terangkan bagaimana Torrijos terbunuh?JOHN PERKINS Omar Torrijos adalah Presiden Panama. Omar Torrijos telah menandatangani Perjanjian Kanal (Canal Treaty) dengan Carter — dan, kamu tahu, ini hanya melalui persetujuan satu orang anggota Senat/Kongres. Ini adalah isu tingkat tinggi. Dan Torrijos kemudian juga pergi dan bernegosiasi dengan Jepang untuk membangun sebuah kanal-laut di Panama. Jepang berkeinginan membiayai dan membangun kanal-laut di Panama itu. Perundingan Torrijos ini membuat sangat marah Perusahaan Bechtel, waktu itu direkturnya adalah George Schultz dan senior council adalah Casper Weinberger. Ketika Carter terdepak (dan terdapat cerita yang menarik- apa sebenarnya yang terjadi), ketika ia kalah dalam pemilihan, dan Reagan terpilih, lalu Schultz menjadi menteri luar negeri dari Bechtel, serta Weinberger dari Bechtel juga menjadi menteri pertahanan, mereka benar-benar marah pada Torrijos - mencoba menegosiasi kembali Perjanjian Kanal dan untuk tidak berhubungan dengan Jepang. Ia (Torrijos) tetap tak bergeming, menolak.Ia adalah sosok yang punya prinsip. Ia memang punya persoalan dalam dirinya, tapi ia adalah seorang yang punya prinsip. Ia adalah orang yang mengagumkan, si Torrijos itu. Dan kemudian, ia terbunuh dalam kecelakaan pesawat yang mengerikan, dimana ini berhubungan dengan tape recorder yang meledak bersamanya, dimana —- Saya ada di sana (Panama). Saya sedang bekerja sama dengan dia. Saya tahu, kami (economic hit men) telah gagal. Saya tahu para "serigala-serigala" (the jackals) sedang mendekati dia, dan kemudian, pesawatnya meledak dengan sebuah tape recorder dengan bom didalamnya. Saya tak meragukan sama sekali bahwa ini adalah "sanksi" dari CIA, dan sebagian besar - para investigator Amerika Latin mempunyai kesimpulan yang sama. Tentu saja, kita tak pernah tahu tentang hal ini di negara kita (Amerika).AMY GOODMAN Lalu, dimana - kapan Anda mengubah pandangan Anda?JOHN PERKINS Saya merasa sangat bersalah sepanjang waktu, tapi saya dibujuk rayu. Kekuatan obat-obatan, seks, kekuasaan, dan uang, sungguh terlalu sangat kuat bagi saya. Dan, tentu saja, saya melakukannya sebagai seorang yang tepat. Saya adalah pimpinan ekonom. Saya melakukan sesuatu yang Robert McNamara (Presiden Bank Dunia) inginkan dan begitu juga kelanjutannya.AMY GOODMAN Bagaimana dekat Anda dengan Bank Dunia?JOHN PERKINS Sangat, sangat dekat dengan Bank Dunia. Bank Dunia menyediakan hampir semua biaya yang digunakan economic hit men, ia (Bank Dunia) dan IMF. Tapi ketika terjadi 11 September (WTC ditabrak pesawat), saya berubah pandangan.Saya tahu cerita kejadian ini harus diungkapkan karena apa yang terjadi pada 11 September adalah akibat langsung dari apa yang economic hit men lakukan. Dan hanya dengan jalan bahwa kita merasa aman pada negara ini kembali, dengan adanya rasa kebaikan tentang kita, dimana kita menggunakan sistem kita untuk melakukan perubahan positif di berbagai belahan dunia. Dan saya percaya kita dapat melakukannya. Saya percaya bahwa Bank Dunia dan institusi lain dapat diubah dan melakukan apa yang sebenarnya harus dilakukan, yaitu merekonstruksi bagian-bagian yang luluh-lantak di dunia. Menolong, sungguh-sungguh menolong orang-orang miskin. Ada 24 ribu manusia mati kelaparan tiap hari di dunia. Kita dapat merubah itu.AMY GOODMAN John Perkins, saya mengucapkan terima kasih sekali Anda telah bersama kami. John Perkins seorang yang telah menulis Confessions of an Economic Hit Man.——-[1]

Diterjemahkan secara bebas oleh Setyo Budiantoro (Bina Swadaya), dari wawancara John Perkins dengan kantor berita Democracy Now (Amerika).Warning: Apapun yang anda baca, lihat, dan dengar, haruslah dicerna dan disikapi dengan sebaik-baiknya, serta ditimbang dengan logika dan rasio yang wajar, tanpa prasangka dan praduga. Jaga pikiran anda agar tetap terbuka dan bersikaplah dewasa. Apapun yang Anda baca adalah tanggungjawab Anda sendiri untuk memilahnya. Karena apa yang belum pernah Anda baca, fakta ataupun sekedar issue, seringkali sangat menakutkan.
Selengkapnya...

Saturday, January 9, 2010

Menggagas Pemerintahan Ideal Perspektif Islam

Judul Asli : Nidhamul Hukmi fil Islam
Penulis : Abdul Qadim Zallum
Penerbit : Al-Izzah
Tahun Terbit : 2002
Jumlah Halaman : xi + 335 Halaman

Di Negara Republik Indonesia, pergantian kepala negara akan terjadi lagi. Kursi wakil presiden pun diperebutkan. Kekuasaan sekali lagi akan dibagi-bagi. Sementara itu, sistem pemerintahan khususnya dan sistem kehidupan secara umum tetap sekularisme. Tidak berubah. Krisis pun belum pulih. Apakah pemerintahan baru dapat mengatasi krisis? Ataukah bakal lagi jatuh menjadi korban seperti pemerintahan sebelumnya? Waktulah yang akan membuktikan. Namun, pemerintahan ideal yang bagaimana yang dikehendaki Islam? Sejatinya jawabannya bisa didapatkan pada buku ini .Kehadiran buku ini setidaknya ingin mencoba menawarkan sebuah sistem pemerintahan alternatif perspektif Islam dalam upaya menciptakan Clean Government dan Good Governance.



Buku ini lahir ketika gelombang perang pemikiran Barat menghantam umat Islam. Pengaruh yang dapat diindera salah satunya adalah persepsi umat Islam telah terkontaminasi dengan pemahaman bahwa Islam adalah agama monastisisme (kependetaan) , Islam tidak mempunyai sistem yang layak untuk memecahkan berbagai problem kehidupan pada era sekarang, Islam juga tidak mempunyai sistem pemerintahan bagi sebuah negara (hlm. v).


Hal utama yang menjadi bahasan saat membincangkan pemerintahan adalah untuk apa suatu pemerintahan dibangun. Secara umum, tentu saja, tujuan dibentuknya pemerintahan adalah untuk menjaga suatu sistem ketertiban di mana masyarakat bisa menjalani kehidupannya secara wajar. Pemerintahan modern pada hakikatnya adalah pelayanan kepada masyarakat. Bukan untuk melayani diri sendiri.


Ringkasnya, tujuan dibentuknya pemerintahan untuk mengurusi berbagai urusan dan keperluan masyarakat. Sampai di sini tampak bahwa persoalan aturan apa atau aturan mana yang digunakan untuk mengurusi urusan masyarakat melalui pemerintahan itu merupakan perkara penting yang kalau keliru menetapkan hal ini berarti malapetaka.Seperti sama-sama dipahami, aturan itu haruslah ditetapkan oleh pihak yang mengetahui dan memahami persoalan. Misal, tidak mungkin seorang yang mengerti menerima dan mempercayai resep obat yang ditulis oleh seorang petani yang tidak tahu menahu tentang kesehatan, farmasi, apalagi dunia kedokteran. Resep itu semestinya dibuat oleh pihak yang tahu betul tentang penyakit dan obatnya. Begitu pula dalam persoalan lain.


Mengikuti pemikiran seperti itu, aturan yang ditegakkan untuk mengatur manusia haruslah berasal dari Dzat yang mengetahui betul seluk-beluk dan karakteristik manusia. Dia itu hanyalah Allah SWT. Sementara manusia itu lemah. Karenanya, aturan dan hukum untuk mengatur manusia yang berasal dari Allah SWT itulah yang akan dapat mengatur manusia secara harmonis.


Pemerintahan yang ideal baik secara i'tiqbdi maupun realitas adalah pemerintahan yang mengurusi urusan-urusan masyarakat dengan menegakkan aturan dan hukum Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan kata lain, pemerintahan yang ideal adalah pemerintahan yang menegakkan dan memberlakukan seluruh hukum Islam. Abdul Qadim Zallum mengawali bukunya dengan melakukan komparasi dan kritik pemikiran secara adil terhadap sistem pemerintahan yang lain, seperti Monarkhi, Republik, Kekaisaran dan Federasi. Setelah itu ia paparkan secara sistemik pilar-pilar pemerintahan dalam Islam beserta perangkat yang menopang tegaknya pemerintahan.


Pada bab-bab yang lain dikemukakan penjelasan secara jernih mengenai kewajiban untuk mengaktualisasikan Islam secara global dan serempak. Salah satu titik tekan yang dikemukakan Zallum adalah perlunya didirikan sebuah partai politik Islam yang menyeru kepada Islam, melakukan amar ma’ruf nahi munkar serta mengoreksi para pejabat yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan terhadap semua tindakan dan tingkah laku yang mereka lakukan. Bahkan secara tegas Zallum menyatakan bahwa jaminan sesungguhnya kesempurnaan dalam penerapan Islam, adalah adanya partai politik Islam.


Pada cetakan ini penerbit telah melakukan takhrij hadist artinya bahwa hadist-hadist yang digunakan sebagai dalil dalam buku ini telah diyakini kesahihannya berdasarkan referensinya. Sejak dicetak pertama kali tahun 1953, buku ini telah mendapatkan sambutan luar biasa dari berbagai negara. Pembahasannya terasa utuh dalam satu kesatuan pemikiran, sistematis dalam satu rangkaian kerangka berpikir, terinci hingga ke relung-relung permasalahan serta aplikatif. Daya dobrak pemikiran buku ini telah menjawab kegamangan dan kebingungan umat Islam tentang gambaran konkret pemerintahan dalam Islam. Pembaca begitu mudah untuk segera mendapatkan gambaran utuh tentang konsep serta operasionalisasinya.


Maka layaklah buku ini dijadikan rujukan oleh setiap muslim, para aktivis dakwah, tokoh-tokoh politisi muslim dalam masyarakat yang mempunyai kepedulian mendalami hukum tata pemerintahan Islam.****

Selengkapnya...

QUANTUM REZEKI; Teknik Membuka Pintu Rezeki


Penulis : Tenas A. Samudra

Penerbit : Araska, Mei 2008

Harga : Rp. 25.900


Ada banyak pintu rezeki pemberia Allah Swt. Sekarangtinggal bagaimana kita berikhtiar membuka pintu rezekitersebut. Mungkin kemudian anda akan bertanya, mengapakadang pintu rezeki kadang susah dibuka? Nah, ini dia,jangan-jangan selama ini anda salah pintu. Andamengetuk pintu rezeki yang salah. Atau anda salahmemegang kunci. Atau anda tidak punya kunci samasekali.



Kini anda tidak perlu kawatir, semua kunci-kunci pinturezeki tersebut telah dipaparkan dengan gamblang dibuku ini, diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Andatinggal mengambil dan mengamalkannya.


Selain mengurai sekian banyak kunci pintu rezeki yangmenjadi rahasia lapang rezeki, buku ini jugadilengkapi kisah-kisah nyata menarik dan inspiratiftentang bagaimana rezeki datang menghampiri seseorang,dan bagaimana pula orang tersebut menjemputnya, amalanzikir dan doa mendatangkan rezeki, panduan mencarirezeki halal, menjadi entrepreneur seperti Rasulullah,dll. Insya Allah dengan mengamalkan buku ini anda akanmendapatkan keluasan rezeki dari Allah Swt. Amin.Dapatkan bukunya di Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas,Uranus, dll.

Selengkapnya...

Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam


Penulis : Abdul Aziz al Badri

Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta

Tebal : 69 halaman


Menganggap Islam tidak memberikan solusi bagi suatu masalah adalah hal yang lumrah di masa sekarang. Hasilnya, Islam tak lagi dipandang, aturannya tak lagi tersentuh, dan ummatnya tak lagi punya rasa percaya diri.Pemutarbalikan fakta inilah yang coba diungkap oleh buku ini, yang menjelaskan Islam dari sudut pandang yang khas dan sulit dijumpai pada penulis lain secara objektif.



Dalam buku ini, penulis berani menohok peradaban barat yang kental dengan liberalisme/kebebasannya, yang saat ini dijadikan dewa idaman oleh ummat, namun membuat hasil yang jauh dari harapan, kesenjangan social yang parah, kebebasan bersaing dan menciptakan berbagai kelompok yang selalu berupaya untuk mengausai segala sektor kehidupan alias monopoli.


Sebelumnya, jauh-jauh sebelum konsep kapitalis dan sosialis lahir, Islam telah menawarkan dan merealisasikan konsep sistem pemeliharaan dan pengaturan urusan rakyat, cara pemenuhan kebutuhan pokok, penanganan kemiskinan, kesejahteraan hidup dan lain sebagainya, yang tidak akan bertentangan dengan fitrah manusia.


Islam tidak muncul dari suatu kesengsaraan social yang bersifat nisbi dan kondisional, namun adalah sebuah aturan mulia yang bertolak dari pandangan dasar tentang manusia dan kehidupan (aqidah). Islam memandang bahwa manusia punya keterikatan dengan hukum dan tata aturan dari Allah Swt pencipta alam semesta.Bukti-bukti inilah yang coba diungkapkan oleh penulis. Sebuah solusi dan fakta yang pasti tidak akan mampu terbantahkan bahwa Islam-lah yang terbaik.

Selengkapnya...

Diskursus Islam Politik dan Spiritual


Penulis : Hafidz Abdurrahman
Penerbit : Al-Azhar Press, Bogor
Tahun Terbit : 2004
Tebal Buku : 303 halaman.

Islam kaffah. Itulah tuntutan Allah SWT kepada kita sebagai Muslim. Kita pun, sebagai Muslim, senantiasa berdoa memohon kebaikan dan kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat. Persoalannya sering kita tidak sadar dengan doa yang senantiasa kita panjatkan itu. Kita mengabaikan petunjuk-petunjuk Allah SWT agar sukses di dunia dan di akhirat. Tidak jarang di antar kita “ngoyo” mencari dunia, pergi subuh pulang malam, lupa sholat, lupa doa, lupa Allah SWT.



Seolah-olah dengan harta yang kita uber itu semua persoalan bisa kita selesaikan. Ada pula di antara kita yang “nongkrong” di masjid terus-menerus, tak pernah keluar mencari kehidupan, pasrah dengan perkembangan di luar yang mengarah kepada deislamisasi segala sisi kehidupan. Seolah-olah krisis ekonomi, kebobrokan birokrasi, korupsi dan kolusi yang merajelela, dekadensi moral, kriminalitas dan lain-lain akan terkikis habis dengan doa-doa dan istighosah yang mereka panjatkan.
Ada juga di antara kita yang rajin mengerjakan perintah sholat, puasa, dan ibadah ritual lainnya, namun dalam berbagai aspek kehidupan mereka membuat pemecahan problem dengan cara-cara dari luar Islam. Dalam politik, mereka pakai demokrasi, bahkan ada yang pakai premanisme. Dalam masalah ekonomi, mereka pakai cara kapitalis dan lintah darat.
Seolah tidak ada ruang bagi Allah SWT untuk mengatur kehidupan selain dzikir, tahlil, sholat, sholawat, dan sebagainya. Inilah berbagai ketidak-nyambungan antara doa “sapujagad” kita di atas dengan aktivitas alias usaha yang kita lakukan. Tidak seperti agama-agama lain yang umumnya hanya bicara masalah spiritualitas, Islam ternyata menjelaskan dan mengatur urusan keduniaan, baik secara global maupun secara rinci.
Seluruh urusan umat diatur oleh Islam dengan hukum syariahnya. Dengan melihat berbagai fenomena/fakta real diatas, lewat buku Diskursus Islam Politik dan Spiritual ini, penulis memberikan pandangan sekaligus jawaban terhadap fenomena/fakta tersebut. Dalam karyanya ini, beliau ungkap tentang ke maha luasan dari ajaran agama Islam dalam segala aspek kehidupan, politik, ekonomi, kehidupan sosial, permasalahan hukum (yudikatif) dan lain sebagainya.
Dengan kepiawaiannya, beliau mampu melihat seluruh aspek dalam ajaran Islam yang maha sempurna, seperti pandangan Islam agama politik dan spiritual (hal.21-24), hakikat manusia menurut Islam (hal. 41-43), hukum syara yang berkaitan dengan masalah manusia dengan Allah (hal. 194-199), Sistem ekonomi, politik, sosial ke-masyarakatan (an-nidham al-ijtima’i), serta pendidikan dalam Islam (hal. 200-211), hukum Islam di seputar masalah manusia dengan dirinya (hal. 213- 216).
Setelah secara gamblang menjelaskan seluruh aspek kehidupan dalam sudut pandang Islam, beliau juga menjelaskan secara sistematis metode (Islamic method) dalam pelaksanaan atau penerapan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Seperti metode menerapkan hukum Islam (hal. 224-230), metode menjaga syari’at Islam:khilafah Islam (hal. 232-235), metode menjaga syari’at Islam: jaminan reformasi dan kontrol terhadap khilafah (hal. 240-242), metode mengemban Islam: dakwah, jihad di jalan Allah, partai politik Islam, adanya khilafah (hal. 245-255).
Namun, tidak hanya samapai disitu, beliau juga melengkapinya dangan sumber-sumber pemikiran Islam dan metode Islam (hal. 257-272). Oleh karena itu, mempelajari, memahami, dan berjuang mewujudkan kembali eksistensi Islam sebagai agama spiritual dan politik secara kaffah, merupakan tugas suci yang harus diemban setiap Muslim sampai akhir hayatnya. Melalaikan hal itu, apalagi menyesatkan masyarakat dengan mempropagandakan bahwa Islam itu tidak pernah membahas politik dan jangan dicampuri dengan politik, adalah suatu penyimpangan dan perbuatan dosa yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Menerima sebagian Islam (masalah spiritualitas dan moralitas saja) dan menolak sebagian yang lain (politik, ekonomi, kehidupan sosial, pendidika, dan lain-lain), merupakan penyimpangan dari Islam.
Kehadiran buku ini sangatlah bernilai tinggi bagi (pengemban risalah Islam) yang selama ini bergerak untuk membangkitkan kembali umat yang sudah terlelap begitu lama dari tidur dan juga memberikan pencerahan (enlightment) kepada orang-orang yang selama ini menganggap dan bersikap sinis bahwa Islam hanyalah sebuah ajaran spiritualitas belaka.

Selengkapnya...

RARA MENDUT


Pengarang : Y.B. Mangunwijaya
Penerbit : GPUTebal : 802 halaman

Cetakan I : 2008 Harga : Rp. 95.000,-


Begitu buku ini muncul, kenangan akan tulisan Rama Mangun tentang Puntung-puntung Rara Mendut yang pernah kunikmati di masa SMP dulu seketika menggelegak. Tak membuang banyak waktu, segera kupesan Rara Mendut Sebuah Trilogi ini di sebuah toko buku online. Tak kusangka, beberapa hari kemudian aku dipaksa tercengang saat membuka paket yang kupesan. Ukuran dan tebalnya itu, plus ukuran hurufnya yang lumayan kecil sempat membuatku bertanya, bosan nggak ya, membacanya.






Ternyata, harus kuakui kemudian, tak akan pernah muncul kata bosan membaca salah satu master piece pastor yang telah berpulang pada Januari 2000 ini. Selain karena jalinan ceritanya yang mengasyikkan, pepatah dan syair-syair dalam tembang Jawa yang bertaburan di dalamnya, juga keahlian penulis dalam melontarkan joke-joke segar.Buku ini terdiri dari 3 bagian. Yang pertama berjudul Rara Mendut yang mengisahkan perjalanan hidup seorang gadis pantai dari pesisir Jawa tepatnya di wilayah kadipaten Pati yang terampas dari lingkungan yang membesarkannya. Perjalanan nasib sebagai budak rampasan membawanya sampai ke tangan Tumenggung Wiraguna, salah seorang panglima perang kerjaan Mataram.


Namun demi cintanya pada Pranacitra, perempuan trengginas ini mampu melibas jeruji nasib yang disorongkan kepadanya dan memilih takdirnya sendiri.Bagian kedua berjudul Genduk Duku, yang mengisahkan perjalanan sahabat Rara Mendut setelah nasib memisahkannya dengan sahabat sekaligus kakak yang sangat dicintai dan diidolakannya itu. Perempuan berdarah setengah Sumbawa yang ahli berkuda ini sesungguhnya ingin menghindari kontak dengan kerajaan setelah apa yang menimpa kakak angkatnya.


Namun toh nasib masih menyeretnya menjadi saksi atas intrik yang terjadi di dalam istana Mataram.Bagian ketiga mengisahkan petualangan anak Genduk Duku bernama Lusi Lindri yang menjadi salah satu anggota pasukan pengawal khusus Raja Mataram, Sunan Amangkurat I. Kedekatannya dengan keluarga kerajaan membawanya pula pada labirin rahasia serta intrik yang terjadi di kerajaan. Sebagaimana Rara Mendut dan Genduk Duku ibunya, Lusi Lindri akhirnya memilih memenangkan nuraninya, berjuang demi idealisme yang digenggam.


Membaca kisah ketiga ksatria wanita ini, sebagai seorang wanita, aku merasakan keberpihakan pengarang pada sosok perempuan. Apalagi setting cerita di masa kerajaan dimana perempuan diposisikan tak lain sebagai kanca wingking yang sendika dawuh, tak memiliki andil dalam pengambilan keputusan laki-laki. Namun sesungguhnya, dalam kehalusannya tutur dan lakunya itulah, wanita banyak meracuni logika lelaki hingga kadang salah langkah, terperosok ke jurang yang menghinakan kemanusiaannya sendiri.


Banyak hal yang kudapatkan dari menikmati buku ini. Tentang jiwa manusia, tentang agungnya budaya dan falsafah Jawa, serta tentang kebijaksanaan- kebijaksanaan hidup yang bisa kita pelajari dari kisah Babad Tanah Jawi masa lalu yang masih relevan di jaman sekarang.Mungkin buku ini akan lebih ciamik jika disisipi peta jaman kerajaan Mataram dulu, pembagian-pembagian wilayahnya, sehingga memudahkan pembaca untuk membayangkan perjalanan tokohnya melintas di tanah Jawa.Tanah Baru, 2/05/08 22.58


http://lembarkertas .multiply. com


Selengkapnya...

Thursday, January 7, 2010

Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kiai


Penulis : H.M. Madchan Anies
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : xii + 180 halaman


Umat Islam di Indonesia khususnya warga NU (Nahdliyin) telah mentradisikan tahlil dalam berbagai hajatan, seperti yang biasa dilaksanakan 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari dari kematian keluarga/tetangganya. Di kalangan pesantren, santri dan keluarga ndalem biasanya menyelenggarakan acara haul untuk melakukan “kiriman doa” kepada kiainya yang telah meninggal dunia. Tentang tahlil, sebagian masyarakat kita masih terkotak pada dua kelompok pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa tahlil merupakan tradisi baru, yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW, mereka menganggap tradisi tahlil sebagai bid’ah, sehingga tidak selayaknya sebagai seorang muslim untuk mengamalkannya. Sementara, di pihak lain (baca: kaum Nahdliyyin), meski sebagian dari mereka belum tahu persis landasan hukumnya, namun hal ini tidak mengurangi semangatnya untuk mengamalkan tahlil.



Tradisi tahlilan merupakan salah satu hasil akulturasi antara nilai-nilai masyarakat setempat dengan nilai-nilai Islam, di mana tradisi ini tumbuh subur di kalangan Nahdliyyin. Sementara ormas-ormas lainnya cenderung memusuhi bahkan berusaha mengikisnya habis-habisan. Seakan-akan tradisi tahlilan menjelma sebagai tanda pembeda apakah dia warga NU, Muhammadiyah, Persis, atau yang lainnya. Terjadinya polemik tentang tahlil tersebut, tentu bisa berdampak pada rusaknya ikatan kekeluargaan antar muslim, seperti saling menuduh dan menyesatkan kelompok lainnya, timbulnya rasa curiga yang berlebihan.

Memang, -harus dipahami- tahlil sampai saat ini masih menjadi masalah khilafiyah yang harus diterima dengan lapang dada. Ritual tahlil memang tidak dituntunkan oleh Rasulullah SAW, sehingga bukan merupakan bentuk ibadah mahdhah, bukan ibadah khusus. Ritual tahlil ini sekedar amalan baik yang memiliki keutamaan dan faedah. Bila faedah dari amalan tahlil ini dapat menghantarkan umat untuk tergerak menjalankan syariat-syariat yang wajib, bahkan lalu menjadi sarana utama dan pertama juga agar warga tergerak; maka tradisi tahlil tentu dapat menjadi sarana strategi dakwah umat Islam.

Tetapi, ada beberapa hal yang menjadi koreksi bagi penganut tradisi tahlil. Adalah mayoritas jamaah yang pro-tahlil ini hanya sedikit yang mengerti pijakan hukum tentang tradisi tahlil. Oleh karenanya, diharapkan dengan terbitnya buku ini dapat menambah referensi tentang tahlil. Sehingga dapat menambah keyakinan dan kemantapan hati dalam setiap mengamalkan tahlil. Karena, jika kita mengamalkan sesuatu yang disertai dengan pemahaman landasan hukum yang kuat dan benar tentu akan dapat membuat hati lebih mantap dan yakin.

Melalui buku ini, penulis mengupas secara gamblang terkait tahlil. Bagian awal, diberikan penjelasan beberapa istilah seputar tahlil, yakni zikir, selamatan, kenduri, dan berkat. Istilah tersebut dijelaskan secara detail mulai dari asal katanya hingga landasan hukumnya. Di bagian kedua, penulis memberikan wawasan kepada pembaca terkait dengan amal saleh, meliputi shalat, puasa, sedekah, berdoa, membaca al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi, dan zikir. Untuk mengantarkan pembaca dalam rangka memahami tahlil dan seluk-beluknya, di bagian tiga diuraikan tentang hadiah pahala yang membahas bagaimana menerima pahala amal sendiri, menerima manfaat dari amal orang lain, memeroleh manfaat dari syafaat, menghadiahkan pahala amal, ahli kubur selalu menunggu “kiriman”, dan berziarah kubur dan manfaatnya.

Adapun kerangka atau rangkaian dasar bacaan tahlil dan urut-urutannya dapat dibaca pada bagian empat. Madchan Anies memaparkan ada sembilan bagian pokok dalam tahlil, yaitu 1) tentang hadrah dan al-Fatihah; 2) surat al-Ikhlas, al-Mu’awwidzatain, dan al-Fatihah; 3) tentang permulaan surat al-Baqarah; 4) tentang surat al-Baqarah 163 dan ayat kursi; 5) tentang ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah; 6) tentang bacaan tarhim dan tabarruk dengan surat Hud 73 dan al-Ahzab 33; 7) tentang shalawat, hasbalah, dan hauqolah; 8) tentang bacaan istighfar, tahlil, dan tasbih; dan 9) tentang doa penutup tahlil. Penulis melengkapi pada bagian empat ini dengan menjabarkan keutamaan kalimat-kalimat suci tersebut dalam setiap bagian tahlil. Sementara di bagian akhir, penulis menambahkan hal-hal yang terkait dengan tahlil, meliputi kenduri (ambengan), membaca surat Yasin, Fidyah, dan Fida’ atau Ataqah.

Kiranya, buku ini perlu juga dibaca bagi pembaca yang “merasa” kontra terhadap tradisi tahlil. Setidaknya agar mereka membuktikan sendiri bahwa tradisi yang dipraktikkan oleh saudara mereka (baca: warga Nahdliyyin) juga memiliki pijakan dalil syar’i yang kuat. Walhasil, dengan memahami tahlil berikut landasannya, diharapkan akan tercipta sikap saling pengertian demi terwujudnya penguatan persaudaraan antar sesama. Semoga!

Selengkapnya...

DRAMA INDONESIA

Drama Indonesia Slideshow: Royun’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Bogor was created by TripAdvisor. See another Bogor slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.